Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Belenggu Hirarki Pascakolonial

Kemerdekaan suatu bangsa dari jajahan kolonial tentu saja secara fisik dapat dirasakan perubahannya hingga sekarang dalam segala aspek.

Editor: Sudirman
Ist
Arif Hukmi, Asisten Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIM 

Arif Hukmi

Asisten Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIM

Kemerdekaan suatu bangsa dari jajahan kolonial tentu saja secara fisik dapat dirasakan perubahannya hingga sekarang dalam segala aspek.

Namun di setiap negara bekas jajahan, yang tersisa darinya adalah paradigma atau perspektif bagaimana memandang sesuatu hal; melihat Barat (the occident) sebagai sebuah peradaban yang maju, dan Timur (the orientalis) dilihat sebagai peradaban yang tertinggal.

Termasuk Indo­nesia—yang merupakan negara bekas koloni Belanda, cara pandang yang belum benar-benar merdeka hingga saat ini.

Hal ini sebagai sebuah implikasi dari jejak kolonialisme yang ditinggalkan orang-orang Eropa.

Mulai dari teks yang kita baca, film yang kita nonton dan produk-produk yang mengkonstruksi pemikiran orang-orang Timur.

Melihat ras kulit hitam sebagai golongan yang tertinggal dan kulit putih sebagai ras yang maju.

Rambut gondrong sebagai sesuatu yang lekat dengan kriminal, mata sipit sebagai bukan bagian dari dirinya, dan sungguh begitu paradigma kolonialisme yang begitu dekat dengan diri kita.

Salah satu bentuk atau peninggalan kolonialisme dalam konteks cara pandang yang masih diadopsi oleh banyak lapisan masyarakat selain yang saya sebutkan di atas adalah.

Sadar atau tidak di banyak lapisan masyarakat kita—alih-alih di lingkungan akademik sekalipun, ada gap antara Profesor dan mahasiswa.

Sistem pendidikan mestinya menyirami tanah yang subur. Ada hirarki bahwa ada jenjang tertentu.

Di Amerika atau Eropa mahasiswa dan Profesor layaknya sebagai te­man diskusi, bersikap ega­liter, namun tetap sa­ling menghargai tentu seba­gai manusia.

Namun di Indo­nesia tidak demikian terjadi, setidaknya yang saya alami selama bergelut, belajar, berinteraksi di dunia kampus dari studi S1 hingga S2.

Pertanyaan yang perlu dijawab mengapa terlalu ingit disebut gelar akademiknya?

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved