Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Bijak Mengelola Sampah

Ada beberapa kategori sampah disana, seperti moenai -gomi yaitu sampah yang tidak terbakar seperti kaca dan barang pecah belah.

Editor: Sudirman
zoom-inlihat foto Bijak Mengelola Sampah
Ist
dr. Airah Amir, Dokter IGD RSUD Kota Makassar

dr. Airah Amir

Dokter RSUD Kota Makassar

Pernah bermukim di Jepang kurun waktu 3 tahun membuat saya mendapat banyak pelajaran tentang mengelola sampah.

Membuang sampah tentu tidak boleh semaunya.

Ada beberapa kategori sampah di sana, seperti moenai -gomi yaitu sampah yang tidak terbakar seperti kaca dan barang pecah belah.

Ada juga moeru-gomi yaitu sampah yang bisa dibakar seperti sisa makanan dan kertas, serta shigen-gomi atau sampah yang bisa didaur ulang seperti kaleng dan botol plastik.

Membuangnya pun menyesuaikan hari, sesuai aturan dari pemerintah setempat.

Terdapat kalender tahunan yang memuat jenis sampah yang dapat dibuang setiap harinya dalam bahasa Jepang tetapi terdapat gambar yang memudahkan kita untuk memahaminya.

Seingat saya sampah yang bisa dibakar dibuang pada hari Senin dan Kamis, sampah plastik hari Rabu, dan hari Selasa serta Jumat bergantian antara sampah kardus seperti kardus tissue dan botol plastik serta kaleng atau barang pecah belah.

Jangan pula khilaf membuang sampah plastik di wadah yang sama dengan sampah sisa makanan karena yakin sampah tersebut tidak akan diangkut oleh petugas sampah.

Yang repot akhirnya kita juga karena harus mengambil ulang sampah yang sudah kita kemas.

Oh ya sampah tersebut diletakkan di depan tempat tinggal.

Akan ada petugas dan mobil pengangkut sampah yang datang setiap hari, lengkap dengan seragam dan sarung tangan plastik dan sepatu boot saat bertugas.

Tindakan memilah sampah seperti diatas adalah mengurangi efek “gunung “sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat kita yang kurang sadar membuang dan memilah sampah yang justru membuat gunungan sampah di TPA .

Sampah yang masuk di TPA meningkat setiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk tetapi tidak dibarengi dengan upaya mengurangi sampah sedangkan area pembuangan tidak bertambah sehingga membuat sampah kian menggunung.

Belum lagi kebiasaan masyarakat yang asal membuang sampah, lebih memilih membuang sampah sembarangan daripada bersusah payah mencari tempat sampah.

Sehingga tidak heran jika saat ini banyak dijumpai sampah di pinggir jalan.

Berbeda ketika di Jepang, saya tidak pernah menjumpai adanya tempat sampah di pinggir jalan sehingga ini pula yang menjadi alasan mengapa berjalan kaki di Jepang begitu nyaman.

Jika mempunyai sampah saat beraktivitas, sudah menjadi kebiasaan untuk menaruh sisa sampah di tas yang kita bawa. Ketika tiba di rumah barulah aktivitas memilah sampah kembali dilakukan.

Uniknya kebiasaan memilah sampah ini pun dilakukan sejak anak usia dini, dengan tujuan membentuk kebiasaan .

Selanjutnya dari manakah saja asal sampah yang berakhir di TPA? Ada sampah yang berasal dari rumah, perkantoran/industri, Rumah Sakit maupun dari pasar.

Jika di Indonesia secara umum sampah dibedakan menjadi sampah organik seperti sampah sisa makanan dari dapur rumah atau restoran dan sampah anorganik seperti plastik, karet, logam, besi dan kaleng, serta adapula sampah berbahaya seperti jarum suntuk bekas, baterai dan kaleng bekas semprot nyamuk.

Beberapa kali saya mendapati tempat sampah di sekitaran jalan sudah berdasarkan klasifikasi sampah organik atau anorganik, tetapi jika menengok isinya hampir sama saja dengan tempat sampah biasa pada umumnya, semua jenis sampah berada dalam satu wadah.

Lantas berapa banyak sampah yang dibuang di TPA sampah setiap harinya? Untuk TPA Antang di Makassar sendiri telah mencapai 800 ton setiap harinya dan timbunan telah mencapai 50 meter.

Sampah tersebut dibiarkan begitu saja , tidak ada pengelolaan terhadap sampah yang menggunung tersebut. (tribuntimur.com)

Apa akibatnya bagi kesehatan? Seringkali sampah yang menggunung di TPA diselesaikan dengan cara dibakar.

Paparan jangka pendek partikel halus dari pembakaran sampah diketahui bisa memicu berbagai masalah pernapasan dan kardiovaskuler.

Saluran pernapasan yang mengalami iritasi menyebabkan batuk dan produksi dahak yang meningkat.Belum lagi kandungan senyawa kimia lain di udara seperti gas metan hasil pembakaran sampah yang bersifat toksik bagi tubuh.

Penanganan sampah memang belum menjadi perhatian serius dari masyarakat maupun dari pemerintah.

Sejumlah gagasan dan langkah taktis telah dilakukan, sayangnya masalah sampah seolah belum berakhir.

Dalam Islam, kelestarian lingkungan termasuk didalamnya penanganan sampah adalah poin penting dalam kehidupan.

Seperti firman Allah SWT : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya. (QS Ar-Ruum : 41).

Berdasarkan hal diatas, segala aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan wajib untuk dicegah.

Dimulai dari kebiasaan individu dan didukung oleh pemerintah dalam menangani sampah dari hulu hingga hilir.

Pada level individu, ketakwaan individu mendorong dirinya secara sadar untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan atau melakukan pengelolaan sampah sesuai aturan dari pemerintah.

Begitu pula pemerintah wajib melakukan penerapan sistem pengelolaan sampah secara efektif dan efisien sehingga sampah yang menggunung tidak lagi terjadi di TPA. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved