Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kritik Orientasi Pertanian Sidrap, Komisioner KPU Sidrap Akhwan Ali Raih Gelar Doktor Sosiologi

Capaian tersebut terwujud setelah Akhwan Ali, mempertahankan disertasinya dalam promosi doktor di pada PPs UNM

Editor: Ari Maryadi
Citizen reporter
Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Akhwan Ali 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Akhwan Ali, berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Sosiologi pada Program Pascasarjana, Universitas Negeri Makassar (UNM), Senin (19/6).

Capaian tersebut terwujud setelah Akhwan Ali, mempertahankan disertasinya yang berjudul "Konfigurasi Jaringan & Literasi Digital Petani Organik di Kabupaten Sidrap.

Di hadapan dewan penguji dan para hadirin, Akhwan Ali mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Sidrap, sudah seharusnya bekerja sama dengan aktor pertanian organik, untuk pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan.

"Berdasarkan temuan kami di lapangan mengungkapkan bahwa orientasi pertanian Sidrap, masih berorientasi pada peningkatan hasil semata, dan menyentuh nilai keberlanjutan yang bermuara pada kesehatan manusia dan lingkungan," jelas Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisispasi Masyarakat, dan SDM KPU Kabupaten Sidrap.

Padahal menurutnya, di Kabupaten Sidrap terdapat komunitas organik, yang berjejaring dan sudah belasan tahun melakukan advokasi kepada masyarakat Sidrap, meski masih dalam jumlah terbatas.

"Seharusnya pemerintah daerah hadir membersamai para aktor organik, kalau perlu memberikan perlakuan yang sama dengan kelompok tani non organik, sehingga mampu mengubah mindset para petani kita, dan mau beralih ke sistem pertanian organik," jelasnya.

Dalam sidang promosi doktor tersebut, Akhwan Ali menyampaikan bahwa novelty atau kebaruan dari penelitiannya adalah "Konfigurasi Kerucut"

"Konfigurasi Kerucut dalam penelitian kami menggambarkan bahwa para aktor pertanian organik di Sidrap, (Haris Alimin, Masri Ibrahim dan Iskandar), adalah motivator, lokomotif, role model, sementara petani binaanya adalah followers. Baik aktor dan sub aktor kemudian berkolaborasi melakukan sosial learning and marketing," tegasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved