Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Keindonesiaan

Infak Ilmu

Rasanya tak layak sekali jika dakwah/tausiah di masjid yang dananya berasal dari infak jamaah dipandang sebagai sumber rezeki.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi
Anwar Arifin AndiPate Guru Besar Bidang Komunikasi Politik. Anwar Arifin AndiPate penulis tetap rubrik Keindonesiaan Tribun Timur. 

Oleh:
Anwar Arifn AndiPate
Guru Besar Bidang Komunikasi Politik

TRIBUN-TIMUR.COM - Hari ini, 1 Ramadhan 1444 H (23 Maret 2023), ummat Islam di Indonesia, mulai menjalani ibadah puasa dan ibadah lainnya, seperti salat terawih dan Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan kepada “orang beriman” untuk mencapai takwa yaitu jiwa yang penuh apresiasi ketuhanan yang mendalam.

Takwa merupakan pengamalan keagamaan instrinsik dan merupakan bentuk tertinggi kehidupan rohani yang mendominasi jiwa, sikap, dan amal seseorang.

Kehidupan spiritual itulah yang menjelmakan diri dalam bentuk akhlak-mulia. Substansi itu tercantum juga dalam Pasal 32 ayat (3) UUD 1945, yaitu “ …..meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta akhlak mulia,……”.

Akhlak-mulia bukanlah nilai statis, melainkan nilai yang dinamis. Sebab akhlak mulia itu senantiasa menyatakan diri dalam dinamika manusia yang harmonis dengan lingkup sosialnya.

Manusia sebagai makhluk monodualis (individu dan sosial), selalu juga memperlakukan ibadah: puasa, shalat, INFAK, sedekah, wakaf, dan lain-lain, sebagai latihan dan pendidikan spiritual untuk memelihara akhlaknya sebagai fundasi aktivitas sehari-hari.

Akhlak-mulia itu dimiliki orang yang bertakwa, dengan ciri-ciri seperti: selalu beritigfar, gemar berinfak atau bersedekah dalam keadaan apapun, mampu menahan amarah, suka memaafkan orang, dan rajin bersilaturrahmi.

Diyakini ‘sedekah akan menangkal bala dan sakit, serta mempermudah rezeki dan memperkuat silaturrahim’. Kewajiban berzakat, berwakaf, dan berinfak, telah membuat Indonesia yang sekiar 88 persen warganya beragama Islam, dinobatkan sebagai negara “Paling Dermawan” sedunia (nilai,59+persen) dalam “World Giving Index 2018” oleh lembaga internasional “Carities Aid Fondations” (CAF).

Penilaian itu bedasarkan indikator, ‘kegemaran memberi bantuan pada orang yang tak dikenal, tingkat donasi uang, dan partisipasi sebagai relawan’.

Indonesia mengungguli negara-negara maju. seperti: Australia (peringkat ke-59), Amerika Serikat (58), Inggris (55), dan negara lainnya yang masuk juga sepuluh besar, yaitu: Selandia Baru (58), Irlandia (56), Singapura (54), Kenya (54) Myanmar (54), dan Bahren.

Indonesia (78) mengungguli Australia dari segi ‘mendonasikan uang’. Tahun ini (2018) Indonesia mengalami peningkatan dari peringkat kedua tahun 2015, karena diungguli Myanmar.

Tahun 2021 saat pandemi Covid-19 Indonesia meraih lagi predikat negara ‘Paling Dermawan’ didunia. Skor Indonesia naik signifikan menjadi 69 persen dari 59 persen (2018).

Indonesia memiliki nilai tertinggi pada indikator, yaitu menyumbng uang (83 persen) dan meluangkan waktu untuk mengikuti kesukarewalanan (68 persen). Sedangkan membantu orang yang tidak dikenal, Indonesia mendapat nilai 65 persen (peringkat ke-2). Peringkat tertinggi diraih Nigeria (82 persen).

Selain bersedekah dan berinfak dengan harta/uang yang marak dalam bulan ramadhan, juga wajib menggalakkan sedekah, INFAK ILMU dan WAKTU oleh para ilmuwan, akademisi, atau pakar (MUBALIG) sebagai ibadah sosial dan amal saleh, yang dapat menjadi amal jariah.

Ilmu yang tidak diamalkan sama dengan pohon yang tidak berbuah. Menggalakkan infak ilmu yaitu ‘ilmu amaliah dan amal ilmiah’ akan merupakan refleksi iman, takwa, dan akhlak-mulia.

Rasanya tak layak sekali jika dakwah/tausiah di masjid yang dananya berasal dari infak jamaah dipandang sebagai sumber rezeki.

Apalagi berdakwah bukanlah profesi, melainkan kewajiban.

Selamat berpuasa. Maaf lahir batin.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved