Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Betulkah Manajemen Tukang Sate?

TULISAN ini terinspirasi dari catatan kecil seorang wartawan senior di Makassar, Mulawarman pada 9 Maret 2023 yang menyorot

Editor: Edi Sumardi
DOK HASRULLAH
Pengamat politik sekaligus akademisi Unhas, Dr Hasrullah MA  

Dr Hasrullah MA

Pengamat politik sekaligus akademisi Unhas

TULISAN ini terinspirasi dari catatan kecil seorang wartawan senior di Makassar, Mulawarman pada 9 Maret 2023 yang menyorot Wali Kota Makassar, Danny Pomanto terkait  watak dan blame trap menjadi pemantik bagi saya untuk mengulas lebih dalam tulisan itu.

Jujur saja pemikiran yang dikonstruksikan oleh Mulawarman telah menimbulkan multitafsir sebab yang dia sorot adalah sosok Wali Kota Makassar.

Penulis menangkap beberapa poin yang telah dirangkum oleh Banca lalu menggiring pada sosok seseorang.

Tentunya ada yang bernada positif dan pula sebaliknya.

Dalam teori-teori klasik konstruksi media, kita selalu merujuk pada pendapat Burger dan Luckman, yang merekontrukvisme dalam tiga dimensi.  

Pertama adalah realisme hipotetis, kedua tim, dan ketiga konstruksisme biasa.

Ketiga perspektif itu bermuara bahwa konstrukvisme dilihat sebagai proses kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada dan relasi sosial terbentuk antara individu dengan lingkungannya atau orang yang ada disekitarnya.

Jika kita melakukan pendekatan melalui  perspektif dan pemikiran Berger dan Luckman, maka yang termaktub dalam konstruksi sosial pikiran Wali Kota Makassar (Baca Dany Pamanto) itu adalah suatu bentuk pemikiran yang tidak sesuai dengan realitas yang telah dipraktekan melalui pola kepemimpinannya.

Sebagai salah satu contoh bagaimana wali kota usai melantik bawahannya, namun pada praktik proses sistesa sosial justru tanggungjawab dialog bawahan.  

Padahal sebagai bawahan atau anak buah yang telah diangkat menjadi salah satu SKPD atau kepala dinas sudah melalui seleksi yang ketat demi mendapatkan orang terbaik untuk menjadi ujung tombak dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab.

Apalagi proses rekrutmen tersebut melalui seleksi yang ketak dan berbagai alat ukur yang sudah mempunyai tingkat keterandalan yang akurat.

Beberapa  pernyataan dan konstruksi yang di bangun Wali Kota Makassar yakni mulai saat  kegagalan Makassar meraih Piala Adipura sebagai representatif lambang kebersihan dan lingkungan pada satu kota atau daerah.

Atas kegagalannya meraih Piala Adipura tersebut namun pada akhirnya justru menyalahkan hewan yang berkeliaran di seputaran Antang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved