Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Konsulat Jenderal Bronwyn Robbins Hadiri FSAI 2023 di MP, Ada Nobar Gratis Karya Alumni Australia

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2023 dibuka Konsulat Jenderal Australia Makassar Bronwyn Robbins di CGV, Mall Panakukang, Kota Makassar.

Penulis: M Yaumil | Editor: Sudirman
ist
Pengunjung foto bersama dengan Konsulat Jenderal Australia Makassar Bronwyn Robbins dan produser film Steve Rodgers di CGV, Mall Panakukang, Kota Makassar, Jumat (25/2/2023). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2023 dibuka Konsulat Jenderal Australia Makassar Bronwyn Robbins di CGV, Mall Panakukang, Kota Makassar, Jumat (25/2/2023).

Acara dihadiri Steve Rodgers, produser film Sweet As.

Hadir juga perwakilan pejabat SKPD Kota Makassar.

Tahun 2023 menandakan 70 tahun perayaan program beasiswa Australia di Indonesia.

Kemudian FSAI hanya dilaksanakan ditujuh kota yaitu Jakarta, Surabaya, Makassar, Mataram, Yogyakarta, Bandung, dan Tangerang Selatan.

Ada lima film yang akan diputar, yakni Sweet As (2022), Peter Rabbit 2: The Runaway (2021), Penguin Bloom (2020), Paranoia (2021), dan The Drover’s Wife: The Legend of Molly Johnson (2021).

Kelima film ini dapat tontonan secara gratis.

Selain itu, FSAI juga menghadirkan masterclass, wadah berbagai pengalaman para sineas Australia dengan film maker Indonesia.

Konsulat Jenderal Australia Makassar Bronwyn Robbins mengatakan FSAI adalah kesempatan menonton film Australia di layar lebar.

FSAI juga menampilkan karya-karya film dari para alumni Australia.

"Untuk merayakan tahun bersejarah ini, kami akan menyelenggarakan berbagai acara," katanya.

"Untuk merayakan pencapaian alumni kami saat ini dan untuk mempromosikan program Australia Global Alumni kepada para generasi baru," sambung Bronwyn.

Dia melihat industri film Indonesia sangat berkembang.

Festival ini kemudian dapat memunculkan kolaborasi yang maksimal di bidang perfilman.

Antara Australia dan Indonesia tentunya dapat menjali sinergitas dalam memajukan industri film.

Australia sendiri mempunyai lebih dari 3000 bisnis kreatif di industri film.

"Dengan sektor film Indonesia yang berkembang pesat, kami ingin festival ini ciptakan peluang untuk kolaborasi baru agar film kedua negara lebih berkembang," jelasnya.

Gagasan keberagaman lewat pemutaran film atau festival ini kemudian menjadi semangat persatuan dua negara.

Lewat festival ini juga, keberagamaan dimaknai dari berbagai sendi-sendi kehidupan.

Pada intinya film kemudian dapat mendekatkan hubungan Australia dan Indonesia.

"Seperti film dalat menyatukan kita, untuk merasakan budaya, ide, dan perspektif," imbuhnya.

"Selama 70 tahun program alumni kami telah mendekatkan Australia dan Indonesia," tambahnya.

Dia merasa luar biasa dapat kembali berkumpul di bioskop.

Dua tahun lalu perayaan FSAI dilakukan via daring.

"Setelah dua tahun menjadi tuan rumah FSAI secara virtual, sungguh luar biasa bisa kembali ke bioskop lagi," pungkasnya.

Laporan Kontributor TribunParepare.com, M Yaumil

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved