Opini

Tarik Menarik Tambang Politik

Perlawanan tersembunyi sebagai infrapolitics berupa strategi perlawanan yang luput dari pengawasan penguasa.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi
Aslan Abidin Sastrawan dan dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar. Aslan Abidin penulis Opini Tribun Timur berjudul 'Tarik Menarik Tambang Politik'. 

Oleh:
Aslan Abidin
Sastrawan dan dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Tarik tambang merupakan petaka tersendiri bagi bangsa Indonesia. Sebutan tarik tambang dikenal dari penjajah Belanda di Nusantara.

Istilah bernada kalimat perintah itu berarti penjajah mengharuskan orang jajahan menarik beban seperti batu, kayu, maupun barang berat lainnya menggunakan tambang.

Orang-orang jajahan kemudian menjadikan saling tarik memakai tambang antar-kelompok mereka sebagai permainan.

Semacam upaya menyembunyikan kelelahan dan kesedihan dengan saling menghibur diri. Bentuk permainan adu kekuatan itu bisa melibatkan lebih 10 orang tergantung panjangnya tambang.

Akan tetapi, tarik tambang adalah permainan presentasi. Kedua tim, ditambah penonton, mesti hadir saling mendengar dan melihat langsung. Pemain dan penonton terlibat bersama merasakan ketegangan dan keseruan.

Banyaknya pemain terlibat, ditambah penonton dapat sangat dekat ke pemain untuk berteriak memberi semangat, menjadikan tarik tambang selalu riuh. Ekspresi pemain dan penonton berbaur menghasilkan kegembiraan.

Hiruk-pikuk seringkali termasuk dengan adanya pemain atau penonton terjatuh, terseret tali, dan terluka.

Melimpahnya orang terlibat memincut politisi penikmat orang banyak menjadikan tarik tambang sebagai alat pengumpul massa.

Rekor Kuantitas

Maka tersebutlah sebuah kegiatan tarik tambang dengan tali sepanjang 1.540 meter di Jl. Jenderal Sudirman, Makassar, tanggal 18 Desember 2022.

Tarik tambang tersebut melibatkan dua tim masing-masing berjumlah 2.500 orang atau seluruhnya 5.000 orang. Tujuannya memecahkan rekor jumlah petarik tambang ala Museum Rekor Indonesia (Muri).

Banyaknya peserta tarik tambang memang klop dengan kebiasaan Muri. Lembaga ini cenderung mengabaikan keterampilan serta kecerdasan dengan mencatat rekor bukan kualitas tetapi kuantitas. Beberapa rekornya terkesan remeh menggunakan kata ‘terbanyak’, seperti bakar terong terbanyak.

Motif memecahkan rekor mengakibatkan karakter dasar permainan tarik tambang beralih dari kegembiraan pemain dan penonton ke sensasi banyaknya pemain.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved