Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tantangan Kaum Ibu

Hendaknya peristiwa bersejarah itu dapat memberikan pemahaman tentang tantangan dan paradoks yang dihadapi kaum Ibu Indonesia dalam sejarah nasional.

dokumen Tribun Timur
Anwar Arifin Andipate 

Oleh: Anwar Arifin AndiPate

Tantangan Kaum Ibu

TRIBUN-TIMUR.COM - Hari Ibu yang kita diperingati tujuh hari lalu (22 Desember 2015), ditepakan oleh Presiden Soekarno pada 22 Desember 1959, untuk mengenang pelaksanaan Kongres Perempuan Pertama, tanggal 22 Desember 1928 di Yokyakarta.

Hendaknya peristiwa bersejarah itu dapat memberikan pemahaman tentang tantangan dan paradoks yang dihadapi oleh kaum Ibu Indonesia dalam sejarah nasional.

Hari Ibu yang tidak sama dengan mother’s day itu, merupakan sebutan terhormat bagi perempuan dewasa Indonesia. Istilah Ibu (huruf I besar), bukan hanya berarti Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, tetapi terutama juga sebutan kepada perempuan dewasa yang berperan dalam memajukan bangsa dan negaranya.

Meskipun Indonesia pernah memiliki Ibu Presiden, namun kondisi kaum Ibu masih memperihatinkan.

Ibu – ibu atau perempuan Indonesia, misalnya masih mengalami diskriminasi, seperti yang terjadi dalam pemberian upah.

UNDP sebagai lembaga Perserikatan Bangsa – Bangsa mencatat, bhawa IPM perempuan Indonesia lebih rendah (0,655) daripada laki-laki (0,706). Perempuan hanya memiliki waktu bersekolah 7,0 tahun, sedangkan laki-laki 8,2 tahun.

Hanya 52 persen dari keseluruhan populasi perempuan yang mengenyam pendidikan dasar.

Sedangkan perempuan berpendidikan sarjana yang melanjutkan kependidikan magister hanya sekitar 7 persen, dan ke-program doktor hanya sekitar 3 persen.

Ditjen Pendidikan Tinggi pernah merilis, dari 239.339 orang perempuan sarjana, hanya 516 orang (0,2 persen ) tergerak melanjutkan ke pascasarjana. Tak salah jika dalam Pilkada Serentak 2015 misalnya hanya 46 orang Ibu (perempuan) terpilih, dari 529 orang kandidat laki-laki (bapak) 483 orang terpilih.

Kenyataan tersebut sangat berkaitan dengan buruknya kesehatan kaum Ibu Indonesia, sebagai akibat kurangnya asupan gizi yang dipicu sejak bayi.

Kekurangan gizi sudah dialami orang tua (ibu-bapak) secara struktural, sehingga siklus masalah itu terus berlanjut. Siklus itu harus diputus oleh negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akibat kekurangan gizi, membuat IQ (Inteligengemce quotient) rendah. World Population Review negara-negara di dunia, pada Oktober 2022 menilai tingkat IQ orang Indonesia hanya rata-rata 78,49 dan berda diperingkat ke-130 dari 199 negara di dunia. IQ rata-rata ada dibatas terganggu atau tertunda (borderline). Artinya umumnya rakyat berada. Tak salah jika kemampuan membaca Indonesia ada diperingkat ke-60 dari 61 negara (2018).

Upaya menciptakan anak cerdas yang sehat harus sudah dilakukan pada Ibu dan anak, sejak 1.000 (seribu) hari pertama kehidupan (sejak janin terbentuk hingga berumur dua tahun).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved