Opini
Yesus itu Hanya Satu Orang
Yesus itu nama yang disapa pada Zaman Karunia Kasih. Sebagai Penebus Dosa Manusia, dia datang ke tengah umat manusia pada akhir zaman.
Oleh: M Qasim Mathar
Pondok Pesantren Matahari di Dusun Mangempang Maros
TRIBUN-TIMUR.COM - Yahweh itu adalah Yesus. Yesus itu adalah Yahweh. Yesus itu juga adalah Kristus. Biasa digabung menjadi satu nama Yesus Kristus. Dia biasa juga disebut Messias atau Messiah. Atau, Almasih.
Dia bernama Yahweh pada Zaman Hukum Taurat. Yesus itu nama yang disapa pada Zaman Karunia Kasih. Sebagai Penebus Dosa Manusia, dia datang ke tengah umat manusia pada akhir zaman. Sekarang...!
Begitulah yang dapat dibaca dalam literatur Kristen. Siapapun dia dan dipanggil dengan berbagai nama yang berbeda, Yahweh dan sebagainya..., dia itu adalah seorang laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan yang bernama Maryam atau Maria.
Laki-laki putra Maryam itu adalah Isa. Oleh umat Islam disapa sebagai Nabi Isa Almasih atau Nabi Isa alaihissalam (salam-sejahtera kepadanya). Atau, Nabi Isa putra Maryam. Maryam yang tidak bersuami mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, kelak menjadi salah satu dari sekian banyak nabi Allah.
Menurut Alquran, ketika Maryam diberi kabar oleh malaikat Jibril bahwa dia akan mengandung, Maryam gelisah.
Bagaimana mungkin dia akan hamil, padahal dia tidak pernah disentuh oleh laki-laki dan dia bukanlah perempuan penzina. Jibril menenangkannya, bahwa hal itu mudah bagi Allah. Maryam merasa mengandung dan dia mengasingkan diri ke tempat yang jauh.
Rasa sakit mau melahirkan mendera Maryam. Dia lalu bersandar ke sebatang pohon kurma. "Oh, sekiranya aku mati saja...!", derita Maryam. "Janganlah engkau bersedih hati. Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Goyangkanlah pohon kurma itu dan buahnya yang masak akan jatuh kepadamu!", suara Jibril menenangkan Maryam.
Orang-orang tentu akan mencemooh dan menghinanya sebagai perempuan jahat. Dia menggendong Yesus bayinya pulang ke kaumnya. Benar, dia dihina. "Wahai saudara perempuan Harun (Maryam), ayahmu bukan lelaki yang buruk perangai dan ibumu bukan perempuan penzina!", warga menghinanya. Menghadapi hinaan itu, Bunda Maryam menunjuk Yesus, bayinya.
"Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?", kata orang-orang yang menghinanya.
Atas kuasa Allah swt., Yesus atau Isa tiba-tiba berbicara: "Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana pun aku berada. Dia mewasiatkan aku menunaikan salat dan zakat selama hidupku, berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikanku sombong lagi celaka", Alquran berkisah.
"Dan salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiran (Natal)-ku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali", Alquran terus bertutur. Lalu, Alquran menegaskan: "Itulah Isa putra Maryam, yang menegaskan perkataan benar, yang sebagian orang meragukan penegasan itu". Hingga hari ini, saat Hari Natal-nya dirayakan, umat beragama masih ribut mempercekcokkan, "Dia putra Bapa",... "Dia salah satu dari Trinitas: Allah Bapa, Putra Bapa, dan Ruh Kudus",... halal-haram mengucapkan "Selamat Hari Natal",...
Bagi saya, inilah pekerjaan rumah (PR) kemanusiaan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk menguji, maukah kita membaca Kitab Suci masing-masing dan Kitab Suci pihak lain, dengan tekun, sabar, dan ilmu? Saya yakin, kalau itu dilakukan, kita akan lulus dari ujian PR Tuhan dan percekcokan akan bergeser kepada saling pengertian.
Alhamdulillah, jika kita semakin dekat kepada kebenaran yang sesungguhnya!" Sebab Yesus, atau nama apa pun anda menyebutnya, yang disebut berbeda oleh lidah Islam, lidah Nasrani, lidah Yahudi, dia itu hanya satu orang. Bukan dua atau banyak yang lain. Dia putra Maryam, salah seorang dari nabi (rasul) Allah!.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/prof-m-qasim-mathar-21082018_20180821_235633.jpg)