Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Bulukumba

Pelaku Kriminal Didominasi Anak dari Keluarga Berantakan di Bulukumba

Aksi kriminal melibatkan anak terus terjadi di Kabupaten Bulukumba. Polisi meminta ada solusi lain untuk mencegah anak-anak jadi pelaku kriminal.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
dok Tribun
Pelaku kejahatan berasal dari keluarga broken home di Bulukumba. Hal itu disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Abustam, Selasa (16/12). 

*Polisi Dorong Solusi Lain 

TRIBUN-TIMUR.COM, BULUKUMBA-Aksi kriminal di Kabupaten Bulukumba melibatkan anak terus terjadi.

Anak ini bertindak sebagai pelaku maupun sebagai korban.

Rata-rata pelaku berasal dari keluarga broken home atau kedua orangtua bercerai. 

Pihak Polres Bulukumba mengungkapkan, sekitar 80 persen kasus kriminal anak berasal dari keluarga broken home.

Kasus tersebut melibatkan kasus pencabulan, kasus pembusuran dan kasus kriminal lainnya.

"Ada sekitar 80 persen kasus kriminal anak yang kami tangani berasal dari keluarga broken home (perceraian)," kata Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Abustam, Selasa (16/12).

Pengungkapan itu berdasarkan hasil pendalaman Abustam terhadap seluruh pelaku kriminal dan korban.

Baca juga: Kasus Oknum Guru Lecehkan Siswanya di Bulukumba Mulai Dilidik Polisi, Saksi Sudah Diperiksa

Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Abustam memberi keterangan kasus pelecehan kepada siswa di kantornya/SAMBA
 
Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Abustam memberi keterangan kasus pelecehan kepada siswa di kantornya/SAMBA   (TRIBUN-TIMUR.COM/SAMSUL BAHRI)

Anak-anak terlibat kriminal tersebut karena harmonisasi orang tua mereka tidak sehat termasuk lingkungan mereka.

Selain berasal dari keluarga broken home, juga ada dari keluarga yang berasal dari keluarga yang kurang bagus ekonominya.

Dari beberapa kasus kriminal anak, ada yang merupakan pelaku residivis.

Mantan Kasat Reskrim Polres Sinjai ini mengungkapkan kasus kriminal yang ditangani itu tidak cukup penindakan hukum sebagai efek jera.

Namun perlu solusi penanganan lain.

Ia menyebut bahwa salah satunya oknum anak melakukan perbuatan kriminal karena faktor ekonomi.

Seperti pelaku pencurian dan aksi kenakalan lainnya.

Baca juga: 80 Persen Kasus Kriminal Anak di Bulukumba Berlatar Belakang Keluarga Broken Home

"Karena masalah sosial ekonomi, sehingga perlu memikirkan wadah lapangan kerja," katanya.

Ia berharap kepada pihak Dinas Sosial dan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Pemkab Bulukumba dapat menyiapkan lapangan kerja.

Tujuannya kata Abustam, agar tidak melakukan lagi aksi kriminal.

Selain itu, Abustam juga mendorong agar lembaga keagamaan di Bulukumba seperti Pondok Pesantren dapat membina eks pelaku kriminal anak.

Saat ini, sudah ada pelaku kriminal masih berusia dibawah umur dititip di Pondok Pesantren.

Khusus kasus aksi pembusuran ada delapan kasus.

Baca juga: 66 Orang Meninggal Dunia di Jalan Poros Bulukumba

Kasus Kekerasan Anak Naik 

KASUS kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Jeneponto meningkat di tahun 2022.

Terhitung 25 kasus yang diterima Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Jeneponto.

Diantaranya, kasus pemerkosaan hingga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

"Sebanyak 25 kasus, ini di dalam ada pemerkosaan, KDRT, penelantaran dan lainnya," ujar bagian Pemeriksaan Perempuan dan Anak DP3A Jeneponto, Endang saat ditemui di Kantornya, Selasa, (20/12).

Pada tahun 2021, sebanyak 20 kasus yang diterima oleh pihaknya.

Namun, kasus yang paling mendominasi hingga kini adalah pelecehan terhadap anak.

"Itu pelecehan ada terus, tiap tahun ki ada, baru memang korbannya anak kecil," katanya.

Baca juga: Sepanjang Tahun 2022, Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Jeneponto Alami Peningkatan

Menurutnya, banyak kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan, namun tidak dilaporkan kepada pihak berwajib.

"Kayaknya masih banyak itu kejadian di luar cuma kita tidak tahu toh," ucapnya.

Ia juga menuturkan bahwa mayoritas pelaku kekerasan seksual merupakan orang terdekat korban.

"Biasanya orang terdekat, pokoknya orang disekitar kita yang keluar masuk di rumah kita, begitu rata-rata pelakunya," jelasnya.

Untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, DP3A Jeneponto terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 

Sebab, masih banyak masyarakat yang belum paham dan belum mengetahui peran DP3A.(tribunjeneponto.com/tribunbulukumba.com)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved