Opini
Jangan Takut Resesi!
Ditengah kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti ini, cerdas dalam berinvestasi bisa menjadi solusi juga.
Oleh:
Romy Nugraha
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ichsan Sidenreng Rappang
TRIBUN-TIMUR.COM - Perekonomian global pada tahun 2023 diperkirakan bakal suram,.
Institusi global seperti International Monetary Fund (IMF) memperingatkan peningkatan risiko global karena ekonomi maju melambat dan inflasi lebih cepat.
Inflasi merupakan kondisi kenaikan harga secara terus menerus dengan beberapa faktor penyebabnya seperti pandemi covid 19 ditambah invasi Rusia-Ukraina tak kunjung usai membuat pasokan komoditas dibeberapa negara menjadi sulit.
Kekhawatiran ini pun di pertegas oleh menteri keuangan republik Indonesia “Tahun depan ekonomi dunia akan jatuh pada jurang resesi,” tegas Sri Mulyani.
Lantas apa itu resesi?
Resesi ekonomi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Setelah dipukul oleh pandemi covid 19 Indonesia punya tantangan baru yang dinamakan resesi.
Tekanan berat ini muncul sebagai efek perang Rusia-Ukraina sehingga konsumsi masyarakat Eropa dan Amerika menjadi Lesu otomatis permintaan ekspor melemah.
Tetapi kita harus bersyukur bahwa Indonesia ekspornya tidak terlalu tinggi seperti singapura.
Pelemahan ekonomi global hanya akan dirasakan oleh negara yang kontribusi ekspornya ke PDB besar seperti singapura yang mencapai 185 persen sedangkan Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) cuman 22,47 persen jadi sewaktu ekonomi global melemah perekonomian Singapura pun ikut terpengaruh.
Product Domestik Bruto merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional.
PDB kita mengandalkan pada konsumsi rumah tangga.
Menurut data BPS di triwulan III konsumsi rumah tangga tercatat 53,09 persen walaupun turun 1,99 persen dari Triwulan II yakni dari 55,08 persen, konsumsi rumah tangga masih yang terbesar menyumbang ke PDB.
Dalam situasi demikian itu menjadi hikmah, selama konsumsi domestik kita tidak terganggu pertumbuhan ekonomi kita tidak akan jatuh ke jurang resesi walaupun pertumbuhan ekonomi kita akan turun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Romy-Nugraha-Dosen-Fakultas-Ekonomi-dan-Bisnis-Universitas-Ichsan-Sidenreng-Rappang.jpg)