Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan Bola

Jalan Terjal Menuju Puncak Klasemen

Seluruh dunia terhentak dan terpukau dengan gaya permainan Belanda di Piala Dunia 1974 yang digelar di Jerman Barat.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/willy kumurur
Willy Kumurur penikmat bola. Willy Kumurur penulis Catatan Bola di Tribun Timur dengan judul Jalan Terjal Menuju Puncak Klasemen. 

oleh:

Willy Kumurur
Penikmat bola

TRIBUN-TIMUR.COM - Tatkala Belanda mencapai final di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, dunia bola merasa yakin, bahwa inilah saat bagi The Orange untuk meraih tropi pertama sebagai juara dunia, juara dengan mahkota.

Seluruh dunia terhentak dan terpukau dengan gaya permainan Johan Cruyff, Johan Neskens, Ruud Krool, Jan Jongbloed di Piala Dunia 1974 yang digelar di Jerman Barat.

Di bawah pimpinan pelatih top mereka, Rinus Michels, Belanda tampil trengginas sejak babak awal.

Sebuah filosofi baru sepakbola dunia lahir dari tangan Michels, total football; sebuah sistem dan gaya permainan yang tak hanya menyihir dunia saat itu, namun melegenda sampai saat ini.

Postulat Michels tentang sistem total football yang selalu diinjeksikan ke jantung pasukannya, adalah: “Jangan tebas musuhmu dengan pedang jika kalian bisa menggilasnya dengan tank!!!” Dan setiap lawan yang digilas oleh De Oranje “menikmati kematiannya” dengan indah.

Dengan aksioma itulah, Belanda berangkat ke final menghadapi Jerman Barat yang dilatih oleh Helmut Schoen dengan jenderal lapangannya yang elegan, Franz Beckenbauer.

Kita kemudian tahu, bahwa Jerman Barat-lah yang meraih Piala Dunia 1974, menaklukkan Belanda dan total football.

Namun akibat sistem dan keindahan permainan Belanda, dunia bola mengakui bahwa Belanda-lah juaranya: juara tanpa mahkota.

Tanpa Rinus Michels dan Johan Cruyff, Belanda perkasa memasuki final Piala Dunia 1978 menghadapi tuan rumah Argentina.

Lagi-lagi pasukan oranye takluk. Pencinta keindahan bersedih, sambil bertanya-tanya, “Mestikah keindahan itu kalah dan selalu menjadi pecundang?”

Lama setelah itu Belanda kehilangan tajinya, dan kemudian era keemasannya kembali di tahun 2010, saat Tim Oranye tampil di final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Lawannya adalah Spanyol, yang mengadopsi gaya permainan Belanda.

Ketika melatih FC Barcelona, Johan Cruyff memodifikasi sistem total football menjadi tiki-taka, sebuah gaya yang menghentar Barcelona merajai pentas Eropa dan dunia selama bertahun-tahun.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved