Khutbah Ustadz Aspuri Ingatkan Hikmah Kematian, Alumnus Gontor 53 Tahun Jadi Dai di Kota Makassar
Ustad Aspuri jadi khatib di Masjid Al Amanah, komplek Asrama Ratatama Armed, Jl Mappaouddang, Mamajang, selatan Makassar, Sulsel.
Laporan jurnalis Tribun-Timur.com, Thamzil Thahir
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - "Saya tiba di Makassar ini, jam 9, tanggal 9, bulan 9, tahun 1969 dengan kapal Orient Belanda dari Surabaya ke di Pelabuhan Makassar," itulah jawaban Ustad Aspuri (79 tahun), saat ditanya sejak kapan menetap di Kota Makassar, Jumat (18/11/2022) siang.
Tribun-Timur.com menanyakan itu, usai Ustad Aspuri jadi khatib di Masjid Al Amanah, komplek Asrama Ratatama Armed, Jl Mappaouddang, Mamajang, selatan Makassar, Sulsel.
Pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, Maret 1943 ini, adalah salah satu dai senior, di Makassar.
"Sejak di Makassar ini, saya keliling dan diundang dari masjid ke masjid, sudah 53 tahun lebih," ujar warga komplek Hadji Kalla, Panaikang, Makassar ini.
Secara umum, Ustad Asori masih terlihat sehat. Kulitnya putihbdan segar.
Saat khutbah dan jadi imam suaranya masih menggelegar.
Di hadapan sekiyat 150 jamaah masjid urban di komplek militer itu, dia mengingatkan hikmah kematian.
Mengutip dalil dan hikayat, dia menyebut momen mengantar saudara, sahabat ke kubur, adalah isyarat jelas bahwa hidup kita tak abadi.
"Masa hidup kita memang bertambah panjang, tapi usia hidup kita justru terus berkurang," kata alumnus Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jatim ini.
Ustad Aspuri mengaku nyantri empat tahun di Gontor.
"Saya masuk 1961 sampai 1966," ujarnya.
Selepas dari Gontor, "Saya setahun di (pondok) Jamsaren Serengan (Solo), baru ke Makassar tahun '69," kata Asori.
Gontor dirintis tahun 1926, atau lebih tua 17 tahun dari tahun kelahiran Ustad Asori, 1943.
Sedangkan Jamsaren adalah salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia, didirikan Kiai Jamsari, tak jauh dari Pasar Klewer, Surakarta, 1750.