Opini
Gerakan Mahasiswa Angkatan 98
ALDERA adalah salah satu organisasi pergerakan mahasiswa di era orde baru yang ikut berperan di garda terdepan menggiring ledakan aksi reformasi 1998.
Dihadirkan dengan dalih untuk menata format baru kelembagaan mahasiswa untuk lebih fokus pada proses pembelajaran. Dan bukan ikut terlibat di gelanggang politik praktis.
Meski mudah ditebak sebagai bentuk pembungkaman gerakan mahasiswa, tapi apa daya kekuatan mahasiswa tak mampu membendung kekuasaan represif orde baru.
Terbukti, sejak NKK/BKK diberlakukan, gerakan politik mahasiswa meredam. Mahasiswa benar-benar lebih fokus urusan perkuliahan.
Meski di sisi lain, sekelompok mahasiswa memilih menghabiskan waktu, mengulik buku-buku bermutu.
Bertepatan di waktu yang sama, terbit banyak buku ditulis sebagian mantan aktifis Angkatan 66 yang telah beralih sebagai kaum intelektual.
Dari kelompok mahasiswa para pengulik buku itulah, cikal bakal yang kelak kemudian hari menjelma sebagai kelompok studi yang bertumbuh subur di berbagai kampus.
Tak hanya di Pulau Jawa, tetapi merata di sejumlah kampus di wilayah tanah air.
Oleh Denny Januar Ali, pentolan Kelompok Studi Proklamasi, di buku “Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda era 80-an” (Miswar, 1990) menyebutnya sebagai terobosan alternatif pergerakan mahasiswa.
Seiring waktu, sebagian kelompok aktifis justru berbalik memprotes aktifitas kelompok studi. “Buat apa larut membincangkan kemiskinan, sementara kaum miskin terus saja bertumbuh”.
Akibatnya, kelompok studi perlahan mereda. Dan memasuki akhir 1980-an dan awal 1990-an, pergerakan mahasiswa terbelah dua.
Satu pihak tetap berbasis di kampus untuk gerakan moral. Sementara kelompok terkecil lainnya, lebih memilih gerakan sosial.
Terjun langsung mengadvokasi kepentingan rakyat untuk bersama-sama menyelesaikan masalah dihadapi.
Dari kelompok terkecil inilah, misalnya lahir lembaga ALDERA yang didirikan dan dipimpin Fius Lustrilanang.
Meski mereka bergerak di bawah tanah, tapi implikasinya meluas.
Selain bermodal keterlibatan langsung dari rakyat untuk melakukan perlawanan, juga karena mereka telah “khatam” dengan idiologi pergerakan sosialisme-marxisme yang sebelumnya ditimba dari pengkulikan buku-buku kiri di sejumlah kelompok studi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/armin-mustamin-toputiri-mantan-anggota-dprd-sulsel-b.jpg)