Opini
Setop Bully Pesantren
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pesantren sering menjadi pilihan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi lebih baik.
Oleh:
Rifa’i Muhammad
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Akhir-akhir ini sering terdengar kabar buruk dari pesantren.
Mulai dari kasus bully sesama santri, pemukulan sesama santri, kasus pelecehan terhadap santri yang bahkan dilakukkan oleh pengurus pesantren, sampai ada kasus santri meninggal di pesantren setelah mengalami kasus kekerasan.
Berita-berita seperti ini memang telah banyak melukai citra pesantren di mata masyarakat.
Tak sedikit yang tadinya ingin mengirimkan anaknya ke pesantren, berubah pikiran dikarenakan banyaknya kasus-kasus penyimpangan di pesantren yang menghiasi media.
Namun apakah benar jika pesantren seperti itu? Hal inilah yang perlu kita pertanyakan ulang.
Jangan sampai kita bersifat stereotype dalam memandang kasus penyimpangan yang sebenarnya hanya sebagian kecil yang terjadi di pesantren kemudian menggeneralisir semua pesantren tidak lagi ramah dan aman untuk anak.
Padahal faktanya justru berbalik. Pesantrenlah tempat paling aman untuk anak saat ini.
Penyimpangan di lingkup pesantren memang tidak dipungkiri kerap terjadi.
Namun hal demikian bukanlah menjadi tolak ukur untuk menilai pesantren tidak lagi aman untuk anak, kasus-kasus penyimpangan yang terjadi selama ini pun bersifat kasuistik.
Hanya sebagian kecil dari banyaknya santri di pesantren yang melakukan penyimpangan.
Dalam menilai pesantren haruslah lebih kompherensif melihat setiap penyimpangan yang terjadi.
Tidak semua pesantren dan santri terlibat dalam kasus-kasus penyimpangan.
Cara pandang pun harus lebih adil dalam memberikan penialain.
Jangan sampai menghukumi sesuatu yang banyak dengan sesuatu yang hanya sebagian kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rifai-Muhammad-Mahasiswa-Pasca-Sarjana-UIN-Alauddin-Makassar.jpg)