Opini
Masihkah Pemuda Dicetak sebagai Generasi Penerus Bangsa?
Para pemuda hari ini sangat berpengaruh dalam menentukan perjalanan suatu bangsa dan negara yang akan datang.

Oleh:
Muh Awaluddin Faturrachman
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar/Pengurus Himpunan Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (HIMA PPKn) dan Forum Lingkar Pena Ranting Unismuh Makassar (FLP) serta Sekretaris Umum HIMA PPKn Unismuh Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Hari Sumpah Pemuda yang baru diperingati beberapa hari yang lalu merupakan momentum dalam mengenang dan menghargai jasa para pendahulu bangsa.
Namun, esensi Sumpah Pemuda bukanlah semata-mata hanya diperingati satu kali dalam setahun, melainkan akan terus hadir secara lahiriah dan batiniah pada setiap pemuda guna merespon tantangan zaman.
Sikap pemuda dalam pendidikan adalah salah satu pengejawantahan nilai-nilai perjuangan para pendahulu.
Disisi lain, bukti konkret kualitas pendidikan zaman sekarang tidak terlepas dari kecamata generasi sebelumnya.
Maka tidak heran, jika para pemuda hari ini sangat berpengaruh dalam menentukan perjalanan suatu bangsa dan negara yang akan datang.
Akankah pemuda dicetak sebagai generasi penerus bangsa?
Apakah pemuda sudah menyentuh pendidikan?
Pertanyaan semacam ini memerlukan solutif sebagai upaya menjaga sistem keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemuda dan Pendidikan
Lahirnya sosok Ir. Soekarno, Ki Hajar Dewantara, Moh Hatta dkk tidak terlepas dari pergelutan semangat belajar dalam menempuh suatu pendidikan saat itu.
Hal ini mesti menjadi bahan referensi oleh para pemuda agar bagaimana bisa menjadi sosok ikon gerakan dalam menjemput Indonesia Emas 2045. Mengutip Data Badan Pusat Statistik (BPS),
“Hanya 10,61 persen pemuda di Indonesia yang telah menamatkan perguruan tinggi pada 2021. Angkanya meningkat 0,25 persen poin dari tahun sebelumnya yang sebesar 10,36 persen.”
Kondisi tersebut membuktikan bahwa hanya ada 1 dari 10 pemuda yang memiliki nilai-nilai perjuangan dalam mengejar sebuah pendidikan.
Disisi lain, keberlansungan sistem pendidikan tidak hanya dilihat dari jumlah Sumber Daya Manusia (SDM).