PT Sulotco Jaya Abadi Gaet Politeknik Pangkep Bina Petani Kopi
Jadi petani kopi tetap dalam kondisi tidak menentu, petani sebagai hulu tidak ada perlindungan, akan tetapi hilir semakin cepat perkembangannya.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Direktur PT Sulotco Jaya Abadi, Samuel Karundeng, mengungkapkan nasib petani kopi harus diperhatikan.
Bicara kopi tak bisa lepas dari petani, begitupun sebaliknya. Kondisi saat ini, hulu sering diabaikan dan justru mengejar hilir.
Hal ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam Sharing Ilmu tentang Kopi di Athrium Phinisi Point Mall, Makassar, Jumat (21/10/2022).
"Kita harus memahami kondisi yang terjadi saat ini. Sering kali kita terpaku di kondisi hilir, kita lupa bahwa kita punya hulu. Hulu kita sering diabaikan, kita sering mengejar hilirnya," ungkapnya.
Dia menerangkan, proses pemasakan kopi butuh waktu lama. Dari bunga sampai petik, butuh waktu sembilan bulan.
Apa yang bisa dilakukan selama sembilan hanya satu, yakni berdoa. Sebab, cuaca dan faktor lain-lain tidak menentu.
Pasca kopi selesai dipetik, harga justru ditentukan oleh hilir bukan oleh hulu.
"Jadi petani tetap dalam kondisi tidak menentu, petani sebagai hulu tidak ada perlindungan, akan tetapi hilir semakin cepat perkembangannya. Anak-anak milenial terus berkembang, tapi jarang berkembang di hulu," jelas Samuel Karundeng.
Pihaknya pun bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk membina generasi muda di bagian hulu. PT Sulotco Jaya Abadi menggandeng Politeknik Pangkep.
"Dengan kerja sama dengan Politeknik Pangkep, harapannya kami bisa membina kader-kader bangsa, generasi muda, untuk bisa masuk ke hulu. Membuat kelompok-kelompok untuk mereka bekerja sama dari hulu hingga hilir, jadi di situ ada keadilan," ucapnya.
Samuel menuturkan, PT Sulotco Jaya memang diberi tugas dari grup perusahaan Kapal Api untuk membina petani kopi di Indonesia.
Jadi pembinaan tidak hanya dilakukan di Toraja, tapi juga di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Semua dilakukan untuk pembinaan petani. Disinilah harapannya kita harus siap mengkondisikan kopi ini," tuturnya.
Sementara Direktur Coffee Cocoa Training Center Surakarta, Prof Sri Mulato, menuturkan pihaknya akan memberikan edukasi, pengetahuan ilmu kopi, aplikasi, teknologi kopi sampai marketing kopi.
Tujuannya adalah untuk medidik para pelaku bisnis kopi, mulai dari rantai pemasok paling awal, yaitu petani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sharing-Ilmu-Tentang-Kopi-di-Athrium-Phinisi-Point-Mall-Makassar-Jumat-21102022.jpg)