Tragedi Kanjuruhan

Buntut Tragedi Kanjuruhan Malang, Ketua PB Pordi Minta Kapolri Copot Kapolda Jatim

Andi Jamaro Dulung mengatakan tragedi Kanjuruhan akibat ulah aparat yang tidak profesional.

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Hasriyani Latif
ist
Ketua PB Pordi Andi Jamaro Dulung. Andi Jamaro Dulung mengatakan tragedi Kanjuruhan akibat ulah aparat yang tidak profesional. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dunia persepakbolaan Indonesia berduka akibat Tragedi Kanjuruhan.

Usai pertandingan Persebaya Surabaya vs Arema Malang rupanya terjadi tragedi maut yang menewaskan ratusan orang.

Ketua PB Pordi Andi Jamaro Dulung mengatakan tragedi memalukan tersebut akibat ulah aparat yang tidak profesional.

"Salah prosedur dan tidak profesional pihak polisi dalam mengelola dan meredam kerusuhan suporter Aremania yang marah karena klub kesayangannya, Arema FC dikalahkan oleh Persebaya," jelasnya, Senin (3/10/2022).

Menurut Jamaro, ia menduga aparat menggunakan kekuatan excessive use force melalui penggunaan gas air mata.

"Pengendalian massa yang tidak sesuai prosedur menjadi penyebab banyaknya korban jiwa yang berjatuhan," ujarnya.

Dirinya menambahkan, penggunaan gas air mata sudah jelas dilarang oleh federasi sepak bola FIFA.

Sesuai pasal 19 menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa dalam stadion. 

"Penggunaan gas air mata yang tidak sesuai dengan prosedur pengendalian massa mengakibatkan suporter di tribun berdesak-desakan mencari pintu keluar, sesak nafas, pingsan dan saling bertabrakan yang kemudian banyak supporter terjatuh dan terinjak-injak oleh suporter yang lain," imbuhnya.

Maka dari itu, kata Andi Jamaro, tindakan represif aparat kepolisian terhadap penanganan suporter dengan tidak mengindahkan berbagai peraturan yang ada adalah sebuah kesalahan fatal aparat kepolisian di daerah Jawa Timur dan Malang. 

Andi Jamaro Dulung juga mendesak kapolri untuk mencopot pimpinan kepolisian daerah, khususnya Kapolda Jawa Timur dan Kapolres Malang.

Karena kedua pimpinan polisi tersebut adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya tragedi berdarah yang menewaskan ratusan orang.

"Selain tuntutan di atas, maka dia juga mendesak Propam Polri dan POM TNI untuk segera memeriksa dugaan pelanggaran profesionalisme dan prosedural serta kinerja anggota TNI-Polri yang bertugas pada saat peristiwa tersebut," jelasnya.

Evaluasi secara menyeluruh segera dilakukan oleh pemerintah, PSSI dan pihak aparat keamanan serta para pemangku kepentingan di bidang olahraga agar peristiwa yang menyedihkan dan memalukan ini tidak terjadi lagi.(*)

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muh Sauki Maulana

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved