Opini Tribun Timur

Politik Identitas dalam Perspektif Filsafat Cinta

Hal ini tak lepas dari paradigma yang mendepankan primordialisme baik dalam aspek identitas kebudayaan, agama mau pun aspek identitas profesi.

Editor: Sudirman
Saifullah Bonto
Saifullah Bonto, Mahasiswa S2 Ilmu Politik Universitas Padjaran/Kader IMM Sulawesi Selatan) 

Oleh: Saifullah Bonto

Mahasiswa S2 Ilmu Politik Universitas Padjaran/Kader IMM Sulawesi Selatan)

Kecenderungan untuk menampakkan sentimen identitas dalam setiap kontestasi politik menjadi salah satu opsi sebagai alat yang paling ampuh untuk mempengaruhi kondisi pemilih.

Sehingga ke depannya dengan mulus bisa mendapatkan legitimasi kekuasaan.

Hal ini tak lepas dari paradigma yang mendepankan primordialisme baik dalam aspek identitas kebudayaan, agama mau pun aspek identitas profesi.

Bahkan tak jarang aktor-aktor politik lebih mengedepankan identitas yang lebih ekstrem yang beranggapan semisal dalam suatu daerah harus keturunan bangsawan atau keluarga tertentu untuk memimpin daerah tersebut.

Sedangkan daerah tersebut notabenenya bukan daerah istimewa dan tentunya demokratisasi harus berjalan sesuai dengan mekanisme undang-undang yang berlaku.

Hal tersebut bisa dikatakan sebagai pewajahan politik identitas.

Dikutip dari Manuel Castells (dalam Made et al., 2018) mendefinisikan politik identitas sebagai partisipasi individual pada kehidupan sosial yang lebih ditentukan oleh budaya dan psikologis seseorang di mana konstruksi identitas berada pada konteks yang selalu diwarnai dengan relasi kekuasaan.

Widyawati (2021) mengutip apa yang disampaikan oleh Yeni Sri Lestari bahwa politik identitas yang didasarkan pada kesamaan identitas seringkali menjadi penyebab utama munculnya konflik politik terutama berkaitan dengan ketegangan antara kelompok superior dan inferior ataupun antara mayoritas dengan minoritas.

Kondisi semacam ini menimbulkan kekhawatiran akan terciderainya perhelatan politik ketika politik identitas terus mengemuka.

Riset sosial yang dilakukan oleh Ari Ganjar Herdiansah beserta kawan-kawan (2019) mengungkapkan bahwa kuatnya sentimen identitas akan mempengaruhi opini publik dengan melakukan mobilisasi pendukung yang didasarkan hanya identitas kelompok tertentu dalam perhelatan politik.

Hal ini terkesan jauh dari kondisi ideal yang harusnya lebih fokus pada ide-ide substantif dan saling menerjemahkan visi misi kandidat dibandingkan isu-isu identitas kelompok.

Kekhawatiran lainnya dari politik identitas yang melahirkan sentimen identitas ini akan berimplikasi negatif terhadap pola perilaku individu dan sekelompok orang dalam berinteraksi di kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Indonesia yang multikultural karena tidak sesuai dengan kondisi waktu dan tempatnya.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved