Lapas Makassar

Napi Teroris Ikut Bekerja di Pabrik Garmen Lapas Kelas I Makassar Kini Banjir Orderan

Orderan pabrik garmen Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas I Makassar kian meningkat di Jl Alauddin Nomor 191 Kelurahan Gunung Sari, Makassar.

Editor: Muh Hasim Arfah
dok Lapas Makassar
Widodo, salah satu pekerja mengaku sangat antusias selama mengikuti pelatihan menjahit di Pabrik Garmen Lapas Kelas I Makassar, Jumat (23/9/2022). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Orderan pabrik garmen Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas I Makassar kian meningkat di Jl Alauddin Nomor 191 Kelurahan Gunung Sari Kecamatan Rappocini Kota Makassar, Kamis (16/07/2020) lalu.

Pabrik garmen ini diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Selatan, Harun Sulianto. 

Pabrik Garmen Lapas Kelas I Makassar biasanya menerima minimal 100 pcs untuk sekali orderan setelah beroperasi.

Dari situ, ribuan pesanan jahitan hingga sablonan diproduksi, di antaranya pakaian dinas, seragam sekolah, almamater kampus hingga Baju Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang dipesan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Sulawesi Selatan.

Penanggung jawab Pabrik Garmen Lapas Kelas I Makassar, Erwin mengatakan, hasil yang didapat dari orderan setiap bulannya digunakan untuk memutar modal, mengembangkan usaha, dan menggaji para Narapidana alias Napi pekerja di pabrik garmen Lapas Kelas I Makassar.

"Para napi yang bekerja kita gaji rata-rata Rp500 ribu per bulan, tergantung seberapa banyak pesanan yang mereka bisa selesaikan," katanya.

Baca juga: Lewat FTI UMI, PT Amura Pratama Donasikan 100 APD untuk Jurnalis Makassar

pabrik garmen Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas I Makassar
Aktivitas pekerja pabrik garmen Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas I Makassar di Jl Alauddin Nomor 191 Kelurahan Gunung Sari Kecamatan Rappocini Kota Makassar, Jumat (23/9/2022).

Terdapat kurang lebih 100 Napi dengan masa hukuman di atas lima tahun yang dipekerjakan.

Para napi itu telah melalui proses seleksi, kemudian dilatih hingga terampil dalam bidang menjahit.

"Jadi kita pilih yang masa tahanannya di atas lima tahun, karena untuk melatih orang menjahit itu tidak mudah. Anggaplah misalnya hukumannya lima tahun, kemudian mendapat remisi, maka pasti waktunya semakin sedikit." katanya.

"Nah dari situ kemudian kita seleksi lagi, yang mana kiranya di antara mereka punya minat dan bakat agar mudah dilatih menjahit," tambahnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved