Opini Muh Iqbal Latief
Opini Muh Iqbal Latief: Unhas 66 Tahun, Kemilau yang Makin Terang
Unhas berpesta di usia 66 tahun (10 September 2022), setelah lebih dari 2 tahun tidak melakukan selebrasi Ulang Tahun (Ultah) karena pandemi Covid-19.
Oleh: Muh Iqbal Latief
Dosen Sosiologi Fisip Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Unhas berpesta di usia 66 tahun (10 September 2022), setelah lebih dari 2 tahun tidak melakukan selebrasi Ulang Tahun (Ultah) karena pandemi Covid-19.
Peringatan hari jadi Unhas tahun ini yang dinakhodai Rektor Prof Jamaluddin Jompa (JJ), agak sedikit berbeda dibanding sebelumnya.
Menariknya, karena juga dilakukan upacara tabur bunga di makam Sultan Hasanuddin sebagai salah satu simbol Unhas.
Ini adalah kebiasaan baik yang harus dilestarikan, untuk selalu mengenang tokoh dan orang-orang yang berjasa.
Jas merah sebagai simbol kebesaran Unhas, bisa juga dimaknai untuk selalu mengenang dan tidak melupakan sejarah.
Sebagaimana ungkapan Sukarno sang proklamator mengenai “ Jas Merah “(jangan sekali-kali melupakan sejarah).
Unhas hari ini adalah perguruan tinggi (PT) yang membanggakan tidak hanya Sulsel atau Indonesia bagian Timur tetapi juga Indonesia. Raihan prestasi Unhas di tingkat nasional dan global, memperlihatkan bahwa kinerja PT yang dipimpin Prof JJ sudah masuk dalam World Classs University (WCU).
Tetapi sebagai lembaga yang dinamis, maka Unhas harus membangun berbagai tantangan baru agar tidak terjebak dalam perangkap perilaku “ Bangga Diri “ dan sejenisnya.
Apalagi Unhas yang sejak tahun 2014 ditahbiskan sebagai PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri – Berbadan Hukum), maka tantangan terbesar adalah transformasi kultural dan struktural yang harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.
Unhas harus meloncat dari Teaching University ke Research University dan pada akhirnya menjadi Enterpreneuniversity.
Tiga tahap ini yang selalu dijadikan standar baku (global) dalam menilai kinerja dan prestasi sebuah universitas.
Posisi Unhas sekarang ini, berupaya secara konsisten mewujudkan dirinya sebagai research university.
Hal ini tentu tidak mudah dan memerlukan dukungan dari semua pihak. Tidak cukup dukungan internal (sumber daya manusia, sistem pembelajaran, sarana dan prasarana fisik), tetapi juga dukungan eksternal (pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, Lembaga internasional dan Lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik).
Bukan hanya itu, Unhas juga membutuhkan dukungan dari alumninya yang kini berjumlah lebih dari 200 ribu dan tersebar di seluruh Indonesia dan dunia.
Di sisi lain, berbagai perubahan yang terjadi terhadap dunia Pendidikan tinggi selama dan setelah masa pandemi Covid-19, tentu harus disikapi dengan merumuskan kebijakan untuk meraih peluang yang muncul pasca covid-19 dan sekaligus meminimalisir risiko yang ada. Sebab disadari atau tidak, Covid-19 telah mengubah perilaku masyarakat dalam memaknai perguruan tinggi (PT).
Padahal core bisnis PT adalah dominan Pendidikan setelah itu baru penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Tantangan Kesejahteraan
Tantangan lain yang juga selalu menjadi fenomena pada dunia kampus, yaitu kesejehteraan khususnya bagi dosen, tenaga kependidikan (tendik) dan tentu mahasiswa.
Hari ini, dosen masih bernafas lega karena adanya sertifikasi dosen, begitu juga tendik karena ada tunjangan kinerja (Tukin).
Namun sejalan dengan perubahan pola konsumsi dan harga-harga kebutuhan dasar yang makin meroket, maka perlahan tapi pasti setifikasi dosen dan Tukin – mulai dipertanyakan apalagi bagi PTN-BH.
Sebab tantangan utama PTN-BH adalah mengkapitalisasi seluruh assetnya menjadi modal yang produktif dan bukan menjadi asset “tidur”.
Baca juga: Opini Abdul Gafar: Kontra
Baca juga: Opini: Pengimplementasian Wawasan Kebangsaan di Kalangan Mahasiswa
Ironisnya, tanggung jawab Pemerintah makin berkurang sehingga kemandirian PT apalagi yang sudah ber- BH, dituntut bekerja keras.
Beragam ungkapan ini, hanyalah sebuah kado Ultah kecintaan pada almamater. Unhas punya potensi yang sangat besar, dengan lebih dari 1.600 an dosen (termasuk guru besar lebih 500 orang), lebih dari 1.200 tendik dan mahasiswa yang kini berjumlah lebih dari 35.000.
Prof JJ sebagai nakhoda kapal besar Unhas yang baru memimpin lebih kurang 5 bulan, paham betul peluang dan tantangan lokal, nasional dan global PT dan itu telah dituangkan dalam visi, misi dan program kerja strategis Rektor Unhas. Apalagi tim yang dibangun dengan menggunakan filosofi “Sapu Lidi”, membuat Unhas makin Bersatu dan makin kuat.
Karena itu, di Ultah yang ke-66, Unhas bak kemilau yang makin terang. Bravo Unhas, Panjimu Kita Bawa Serta !!!!!(*)