Demo BBM
Suara Perempuan Parepare Saat HMI Demo Tolak Kenaikkan Harga BBM
Hasna menyaksikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Parepare yang demo di depan kampus IAIN Jalan Poros Parepare Pinrang.
Penulis: M Yaumil | Editor: Muh. Irham
PAREPARE, TRIBUN-TIMUR.COM - Demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi di beberapa daerah Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (5/9/2022).
Demo itu sebagai respon mahasiswa bersama elemen masyarakat menolak kenaikan harga BBM.
Di Kota Parepare, Tribuntimur.com menghimpun suara dan keresahan perempuan dari emak-emak hingga siswi Sekolah Dasar (SD) terkait kenaikan BBM dan demo mahasiswa.
Pertama emak-emak, Hasna mendukung mahasiswa yang demo tolak kenaikan harga BBM.
Hasna menyaksikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Parepare yang demo di depan kampus IAIN Jalan Poros Parepare Pinrang.
Menurutnya tuntutan mahasiswa sejalan dengan keresahan masyarakat saat ini.
"Setuju dong kalau dia demo karena untuk kepentingan rakyat juga," katanya.
Menurut Hasna, kenaikan harga BBM ini terasa berat baginya yang hanya pensiunan.
Sehingga dia harus menghemat biaya dan mengakali pengeluaran yang tidak diperlukan.
"Sangat terasa sekali bagi kita ini apalagi pensiunan, gaji saja tidak cukup jadi kita hemat saja," imbuhnya.
Selain itu pengeluaran untuk jajan anaknya akan dipotong imbas naiknya harga bahan pokok lain.
"Seperti uang jajan anak-anak ini mungkin dipotong tidak ditambah karena yah kita menyesuaikan dengan keadaan," pungkasnya.
Kemudian, salah orator perempuan dari kalangan mahasiswa, Dewi membawa isu kesetaraan gender ke panggung orasi.
Walaupun isu utama kenaikan harga BBM, namun Dewi menyuarakan terkait kesetaraan perempuan.
"Hidup perempuan yang melawan, kita harus melihat hak-hak perempuan semakin tergerus di era pemerintahan Jokowi," katanya.
"Perempuan mempunyai hak yang sama di segala sektor, ungkapnya.
Selain itu, ia menerangkan perempuan yang paling terkena dampak dari kenaikan harga BBM ini.
Lebih jauh, Dewi melihat perempuan sebagai tonggak ekonomi keluarga dimana yang mengatur uang jajan serta kebutuhan makanan sehari-hari.
"Kawan-kawan, perempuanlah yang paling terkena dampak, karena ibu kita yang mengatur ekonomi keluarga dan kenaikan bahan pokok sehari-hari memberatkan kita semua," tegas Dewi.
Saat HMI melakukan orasi di bundaran Pertamina, siswa/i Sekolah Dasar (SD) dan SMP ikut menonton aksi tersebut.
Mereka menonton dan mendengar orasi-orasi dari mahasiswa.
Siswi SMPN 2 Parepare, Nadhiv mengatakan mahasiswa menyuarakan kenaikan BBM.
"Itu soal kenaikan BBM, mahasiswa teriak-teriak soal itu," katanya.
Nadhiv mendengar jika orasi mahasiswa menyuarakan soal hak perempuan.
"Ada juga saya dengar tadi soal perempuan perjuangkan perempuan," ungkapnya.
Jika sudah jadi mahasiswa nanti, Nadhif terpanggil untuk melakukan unjuk rasa.
Alasannya agar dapat menyuarakan pendapatnya di muka umum.
"Mau ji, bagus bisa menyuarakan pendapat di depan umum," pungkasnya.
Salah satu siswi SD, Hafiza mengatakan aksi unjuk rasa mahasiswa bagus dan menarik.
"Yah bagus, menarik juga," katanya singkat.
Walaupun Hafiza tidak paham isu yang disuarakan mahasiswa, dia tetap saja menonton.
Hafiza tampak baru saja pulang sekolah masih pakai seragam.
Ia bersama teman sebayanya duduk di dekat mobil komando mahasiswa.
Hafiza jika besar nanti punya keinginan untuk ikut unjuk rasa.
"Kalau besar mau demo juga kalau ada ajakan," pungkasnya.(*)