Kolom Perspektif

Literasi Ulama: Milad 96 Tahun Prof KH Ali Yafie

Suatu ketika ditanya tips sehat di usia tua, Prof KH Ali Yafie katakan ada tiga hal dijaga.

Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN TIMUR/MUH HASIM ARFAH
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad. 

Firdaus Muhammad
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin dan
Ketua Komisi Infokom MUI Sulsel

INSYA Allah, Kamis 1 September 2022, Anregurutta Prof. KH. Ali Yafie genap berusia 96 tahun. Beliau dilahirkan pada tanggal 1 September 1926 di Desa Wanidonggala, Sulawesi Tengah.

Dalam usia 96 tahun ini, beliau sehat wal-afiat. Suatu ketika ditanya tips sehat di usia tua, beliau katakan ada tiga hal dijaga, yakni; membaca al-Qur’an, minum madu, dan tidak marah.

Suatu ketika, saat saya silaturrahim di kediaman beliau di Bintaro Jakarta, seusai kami makan bersama, gurutta kembali ke kamar beristirahat.

AGH. Helmi Ali Yafie dengan tekun menyiapkan tempat tidur lalu membunyikan tadarus Al-Quran sembari membuka channel TV berbahasa Arab.

Demikian diantara rutinitas beliau, sejak kecil menghafal al-Qur’an dan rutin tadarus. Kesehariannya menyatu dengan al-Qur’an. Selain itu, nasehat beliau untuk menjaga pola makan sebagai tips sehat.

Ayahnya bernama AGH. Muhammad Yafie merupakan ulama cukup berpengaruh di daerah tersebut. Sementara kakeknya bernama Syaikh Abdul Hafidh Bugis, seorang ulama yang cukup lama mengajar di Masjidil Haram, Mekkah.

Saat usianya 12 tahun mampu membaca kitab kuning. Mengaji kitab kuning di Pesantren Ainur Rofiq, Rappang-Sidrap, Sulsel, dibawah asuhan as-Syeikh Ali Mathar kemudian mengaji kitab kuning dibawah bimbingan Syeikh Mahmud Abdul Jawad, ulama kharismatik yang mukim di Bone.

Beliau ceritakan pernah bertemu Syekh Muh. As’ad saat menemani Syekh Abdurrahman Firdaus di Sengkang. Kecintaannya terhadap ilmu sangat mendalam hingga dikenal ahli fiqih bahkan sebagai pengaggas fikih sosial.

Turut membantu pemerintah untuk menjelaskan tentang KB dalam perspektif fikih yang menjadikan program era Orde Baru itu sukses, demikian testimoni AGH. Helmy Ali Yafie yang menyaksikan abahnya berdialektika dengan wacana tersebut tahun 1980-an.

Beliau juga memiliki gagasan cemerlang tentang fikih lingkungan. Prof. KH. Ali Yafie dikenal ulama organisatoris.

Beliau bergabung di Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) bersama AGH. Abdurrahman Ambo Dalle. Kemudian aktif di NU sejak di Pare-Pare kemudian ke Makassar. Tercatat sebagai Dekan Pertama Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin, Makassar.

Keterlibatannya di NU Makassar dan Wilayah Sulsel, kelak mengantarkannya berkiprah di Jakarta bahkan masuk di jajaran PBNU sebagai Rais Aam. Prof KH Ali Yafie dikenal ulama fiqhi paling disegani.

Penghargaan terhadap keilmuannya sehingga Prof KH Ibrahim Husen kala itu menjabat rektor IIQ (Institut Ilmu Al-Qur’an) menganugerahkannya gelar professor, tepatnya tanggal, 12 Oktober 1991 di Jakarta.

Kontribusi keilmuan dan pengabdiannya di tengah-tengah umat ditandai dari keterlibatannya di MUI, NU, hingga ICMI. Semoga di usia 96 tahun ini beliau senantiasa diberi Kesehatan. Amin!(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved