Opini Mulawarman

Prof Jamaluddin Jompa, Selamatkan Unhas! Wattunnami Prof JJ!

Tulisan ini, berupa catatan ringan penulis untuk Prof Jamaluddin Jompa Rektor Unhas yang baru.

Editor: AS Kambie
DOK PRIBADI
Mulawarman, penulis opini/alumnus Unhas 

Dalam konteks Unhas, penerimaan mahasiswa baru, penulis menengarai ada sebagian pihak kurang transparan, terutama pada unit tes jalur mandiri Unhas.

Di Kabupaten Sidrap ada oknum yang awal tahun 2022 ini, diketahui terlibat dalam percaloan PNS yang berhasil dibongkar Polda Sulsel bekerjasama Kemenpan RI, dikenal luas publik Kabupaten Sidrap banyak meloloskan calon mahasiswa dari Sidrap di Fakultas Kedokteran Unhas, salah satu fakultas yang menerima previleg di Unhas.

Tanpa menduga Unhas terlibat, namun publik sebagian, boleh jadi curiga dengan praktik kecurangan itu. Jangan-jangan ada oknum akademisi Unhas melakukan kerjasama dengan oknum di Sidrap itu.

Kalau pun tidak terjadi korupsi berupa harga penerimaan suap atau gratifikasi, maka sangat mungkin oknum pejabat tertentu terlibat dalam korupsi kewenangan atau jabatan.

Sesuai dengan konsep korupsi, bahwa korupsi adalah tindakan yang dilakukan melanggar hukum baik berupa suap gratifikasi maupun sebagai korupsi kewenangan.

Yang terakhir ini boleh jadi tak sadar, kalau yang demikian itu dia melakukannya. Sehingga ada kesan pemakluman, mengingat kerugian negara tidak tampak langsung, namun justru penyalahgunaan kewenangan atau kekuasaan boleh jadi berbahaya yang sifatnya laten.

Berbagai bentuk korupsi penyalahgunaan kewenangan yang lumrah terjadi adalah dosen ketika melakukan cetak buku dalam jumlah eksemplar tertentu, namun tidak dibayarkan sepenuhnya. Hanya saja dicetak beberapa eksemplar saja, biasanya tidak lebih dari 25 eksemplar buku, tidak sesuai dengan spesifikasi yang diajukan.

Hal ini rupanya secara umum dilakukan karena kepentingannya hanya untuk mengejar kum atau nilai atas proses promosi atau kenaikan jabatan.

Yang lebih parah lagi, setelah berdasarkan riset, bahwa dosen-dosen yang membutuhkan untuk promosi jabatan atau kenaikan pangkat itu, di mana mensyaratkan adanya melampirkan sebuah karya ilmiah atau buku, maka para dosen tertentu akan cukup mengganti subjek riset saja, dan mengganti topiknya, serta mengganti cover atau sampul dari buku/karya tersebut.

Diganti sesuai minat dan dengan nama dosen yang memintanya tadi. Jadilah kemudian karya ilmiah sebagai syarat kum. Sampai sini jangan tanya mutunya.

Dengan praktik ini, tidak salah bila kemudian beberapa bulan terakhir ramai polemik dan kritik atas peran para dosen, khususnya para guru besar di perguruan tinggi. Sejauhmana kemudian peran mereka terhadap perubahan masyarakat.

Hal ini dipertanyakan. Jangankan berkonstribusi nyata bagi masyarakat, karya-karya dosen yang guru besar itu, skalanya kecil-kecil, berbahasa langit, tidak membumi, sehingga sulit di wujudkan dalam karya nyata yang berdampak atau menggetarkan Makassar, apalagi Jakarta.

Bisa penulis katakan, karya dosen Unhas, banyak yang lebih rendah dari kertas bungkus gorengan.

Apa yang dapat diharapkan dengan perilaku kampus seperti itu. Diberi kesempatan berkuasa, mereka main mata. Kolusi dan korupsi. Diberikan kesempatan mengabdi di akademik, mereka sibuk mengejar kum dan pangkat, sampai rela mengganti dan copy paste karya orang lain.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved