Opini Andi Hendra Dimansa
Amuk, Kepada Siapa Rakyat Harus Mengadu?
Arti kata amuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan kondisi tidak terkontrol, kerusuhan dengan kekerasan.
Oleh: Andi Hendra Dimansa
Peserta Kelas Menulis Pancasila Silapedia
TRIBUN-TIMUR.COM - Salah satu sumbangan bahasa Melayu ke dalam bahasa Inggris adalah “amuk/mengamuk”.
Arti kata amuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan kondisi tidak terkontrol, kerusuhan dengan kekerasan.
Yang menjadi pertanyaan dalam kondisi apa rakyat melakukan tindakan “amuk” tersebut? Catatan sejarah menunjukkan bahwa tindakan mengamuk terjadi apabila ada tekanan yang berlebih dari penguasa, ketidakadilan dan akumulasi ketidakpuasan rakyat terhadap penguasa misalnya perang melawan penjajahan dan peristiwa 1965.
Sejarah Indonesia modern memberikan gambaran terkait peristiwa sosial yang memuncak di tahun 1965.
Kejadian itu bukan sekedar memperhadapkan antara pertarungan ideologi, namun juga ada sisi tragis dengan motif pembersihan PKI.
Apakah pembersihan PKI mengharuskan meneteskan darah manusia Indonesia? Lalu, di mana Pancasila dan orang-orang yang menyatakan diri membela ideologi negara? Bukankah Pancasila begitu humanis dengan keberadaan Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Tetapi, toh sejarah mencatat manusia-manusia Indonesia harus menjadi korban.
Peristiwa 1965 begitu tragis di sana mengawali sebuah kejatuhan penguasa yang juga memilukan.
Dia bukan orang asing bagi republik ini, bahkan dari pidatonya kumandang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia untuk pertama kalinya.
Bangsa Indonesia menyebutnya Bapak Proklamator dialah Soekarno. Tetapi, peristiwa 1965 telah melengserkannya dari kursi kekuasaan.
Bangsa Indonesia seolah kehilangan jejak Soekarno dan selama 32 tahun Soeharto menjadi gemilang serta terbilang.
Seolah peristiwa berulang massa berkumpul meneriakkan Soeharto harus mundur dari kuri presiden.
Giliran 1998 menjadi penuntun arah masa depan bangsa Indonesia dengan kalimat sakti “reformasi” yang hendak mengusir segala anasir penghalang demokrasi termasuk Soeharto dan kroninya.
Reformasi 1998 tidak se-tragis peristiwa 1965, namun bukan berarti tanpa korban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-1-2102021.jpg)