Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ingat Jenderal Sutanto? Kapolri Era SBY Ancam Copot Semua Kapolda yang Tak Mampu Tangani Kasus Judi

Saat menjabat Kapolri era SBY, Jenderal Sutanto mengancam copot semua Kapolda yang tidak mampu menyelesaikan kasus kriminal yang ditangani

Editor: Ansar
Kolase Kompas.com
Kolase foto Jenderal Sutanto saat jabat Kapolri dan pensiun. Kapolri era SBY, Jenderal Sutanto mengancam copot semua Kapolda yang tidak mampu menyelesaikan kasus kriminal yang ditangani atau meresahkan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Ingat Jenderal Polisi (Purn) Sutanto? Kapolri yang eksis era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jadi Presuden RI.

Saat menjabat Kapolri era SBY, Jenderal Sutanto mengancam copot semua Kapolda yang tidak mampu menyelesaikan kasus kriminal yang ditangani atau meresahkan.

Sepak terjangnya menumpas perjudian dan premanisme tidak perlu diragukan.

Peperangan terhadap judi dimulainya saat masih menjabat sebagai Kapolda.

Sutanto kemudian melanjutkan misi membersihkan perjudian di seluruh Indonesia saat menjabat Kapolri.

Jenderal Sutanto adalah Kapolri yang disegani hingga membuatnya sukses dalam karir Kepolisian.

Jenderal Sutanto memang dikenal orang dekat dengan SBY. Bahkan menjadi rekan seangkatan SBY.

Bahkan, menjadi salah satu ajudan Presiden Soeharto yang tahu banyak rahasia tentang sang Pemimpin.

Setelah pensiun purnatugas pada tahun 2008, Jenderal Sutanto mengemban jabatan baru yang kali pertama dijabat oleh Purnawirawan Pati Polri.

Saat jabat Kapolri,  Jenderal Sutanto mengancam copot Kapolda yang tak mampu menjalankan perintahnya.

Bukan hanya perjudian, Jenderal Sutanto tegas dalam memberantas bisnis ilegal bahan bakar, narkoba, dan terorisme.

Pada satu kesempatan, Jenderal Sutanto menceritakan pengalamannya saat menjadi pengawal Presiden Soeharto.

Diketahui, sosok Soeharto tentunya menyisakan kenangan tersendiri bagi sejumlah orang,

seusai memimpin Indonesia selama 32 tahun, termasuk bagi para mantan ajudannya.

Satu di antaranya adalah Sutanto, yang juga pernah menjadi Kapolri pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Dalam buku, "Pak Harto The Untold Stories", Sutanto memang mengakui pernah menjadi ajudan Soeharto.

Sutanto menjadi ajudan Soeharto pada tahun 1995 hingga 1998.

Selama menjadi ajudan, Sutanto menyebut Soeharto sebagai seorang pemimpin yang memiliki prinsip dan konsisten.

Menurutnya, selama menjabat sebagai presiden, keputusan Soeharto tidak ada yang bertentangan satu sama lainnya.

Sutanto mengungkapkan, hal itu tidak lepas dari adanya buku khusus yang dimiliki Soeharto.

Buku itu berisi berbagai hal yang penting secara sistematis.

Termasuk setiap masukan atau keputusan juga dicatat dalam buku khusus tersebut.

"Bahkan Pak Harto memberi daftar urut dan memisahkan bagian per bagian berdasarkan siapa menterinya atau apa topik permasalahannya," kata Sutanto.

Sehingga, atas bantuan catatan dalam bukunya itulah Soeharto mampu melihat sejumlah persoalan.

"Dibantu dari buku itulah, Pak Harto sebagai presiden dan kepala negara bisa melihat kemajuan atau progres berbagai masalah yang tengah dihadapi oleh pemerintah," lanjut Sutanto.

Sutanto pun menyebut Soeharto sebagai seorang administrator yang baik dan teliti.

Profil Jenderal Sutanto

Dilansir dari berbagai sumber, Sutanto, Kapolri ke-17 yang menjabat sejak Juli 2005 sampai Oktober 2008.

Ia lahir di Comal, Pemalang tahun 1950.

Sutanto, seperti dua kapolri sebelumnya juga lulusan terbaik Akpol 1973 dan rekan seangkatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terbaik Akmil 1973.

Sejak SBY menjadi Presiden RI, ia kemudian menunjuk koleganya Sutanto memimpin Polri.

Saat memimpin Korps Bhayangkara, banyak keberhasilan Polri mengungkap kasus terorisme.

Misalnya penggerebekan buronan teroris perakit bom Dr Azhari di Batu Malang yang menewaskan WN Malaysia itu.

Setelah pensiun, Sutanto kemudian ditunjuk memimpin Badan Intelijen Negara 22 Oktober 2009 hingga 19 Oktober 2011 dengan status Pati Purnawirawan Polri pertama yang menjabat.

Bongkar Kasus Judi Ilegal

Semasa menjabar Kapolda Sumut, Maret-Oktober 2000, Jenderal Sutanto membongkar kasus perjudian ilegal.

Gebrakannya sempat membuat bandar judi dan bekingnya tiarap.

Pertengahan 1990-an, perjudian ilegal tebak nomor benar-benar marak di Sumatera Utara sekitarnya.

Setidaknya terdapat 3 varian judi jenis ini yang merebak di tengah-tengah masyarakat, yaitu Toto Gelap (Togel), Kim, dan Hwa Hwe.

Kala itu, Togel diputar empat kali petang dalam sepekan, yaitu Senin, Kamis, Sabtu, dan Minggu.

Sedangkan judi Kim dan Hwa Hwe keluar setiap pagi.

Keuntungan didapatkan penjudi lewat angka yang keluar didasarkan pada pacuan kuda dan pacuan anjing di Singapura.

Jenderal Polisi Sutanto dan Jenderal Bambang Hendarso. (SatriaPolri Blogspot)
Riwayat Jabatan Jenderal Sutanto

Pamapta Konwiko 74 Jakarta Selatan PMJ (1973-1975)

Kapolsek Metro Kebayoran Lama PMJ (1978-1980)

Kapolsek Metro Kebayoran Baru PMJ (1980)

Komandan Detasemen Provoost Polda Jatim (1990-1991)

Kapolres Sumenep Polda Jatim (1991-1992)

Kapolres Sidoarjo Polda Jatim (1992-1994)

Paban Asrena Polri (1994-1995)

Ajudan Presiden RI (1995-1998)

Wakapolda Metro Jaya (1998-2000)

Kapolda Sumatra Utara (2000)x

Kapolda Jawa Timur (17 Oktober 2000-Oktober 2002)

Kalemdiklat Polri (24 Oktober 2002-28 Februari 2005)

Kalakhar BNN (28 Februari 2005-Juli 2005)

Kapolri (8 Juli 2005-30 September 2008)

Komisaris Utama PT Pertamina (Januari 2009-21 Oktober 2009)

Kepala Badan Intelijen Negara (21 Oktober 2009 - 19 Oktober 2011)

Komisaris Independen MNC Group (2011-sekarang). (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved