Opini Abdul Gafar

Garis Tangan

Ketika tangan ini dihubungkan dengan kata lainnya menjadi garis tangan, campur tangan, dan terakhir lepas tangan ternyata memiliki makna yang berbeda.

dokumen Abdul Gafar
Abdul Gafar, Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar 

Oleh: Abdul Gafar, Dosen Purnabakti Ilmu
Komunikasi Unhas Maksssar

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kehidupan ini selalu dikaitkan dengan yang namanya tangan. Ketika tangan ini dihubungkan dengan kata lainnya menjadi garis tangan, campur tangan, dan terakhir lepas tangan ternyata memiliki makna yang berbeda-beda.

Kesuksesan seseorang selain karena memang sudah garis tangannya, dapat juga ditentukan oleh sejauh mana campur tangan pihak lain. Sebaliknya jika terjadi kegagalan, maka yang dilakukan biasanya lepas tangan.

Sudah nasib begitu katanya. Tersebutlah sebuah keluarga kecil yang hidup dalam kesederhanaan. Sang ayah bekerja sebagai seorang petugas keamanan sebuah perusahaan properti. Puluhan tahun ia mengabdi kepada Sang Bos dari satu tempat ke tempat lainnya.

Terakhir, ia diberi kesempatan menempati sebidang tanah untuk digunakan bernaung bersama keluarga kecilnya. Garis tangannya sebagai petugas keamanan berakhir di kantor pos jaganya. Sang ayah meninggal di pos jaga tanpa mendapat bantuan dari rekan kerjanya.

Suasana kehidupan tanpa kehadiran seorang ayah sempat membuat keluarga ini menjadi limbung. Penghasilan satu-satunya hanya diperoleh dari perusahaan tersebut. Tidak ada uang pensiun yang diharapkan.

Untungnya, ada jaminan asuransi tenaga kerja yang dapat diharapkan mengisi hidup mereka kedepan. Tetapi berapa lama uang itu mampu menghidupi kehidupan mereka?

Keluarga kecil ini memiliki 2 orang puteri yang semuanya bersekolah di kampus negeri. Kecerdasan dan kondisi ekonomi sehingga membuat mereka berdua mendapatkan bantuan bea siswa hingga meraih gelar kesarjanaan.
Salah seorang diantaranya yang berkuliah di Universitas Hasanuddin ketika masih mahasiswa sempat dikirim ke Jepang untuk beberapa saat.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, sang anak berniat melamar menjadi seorang aparatur sipil negara di daerahnya. Ternyata garis tangannya tidak membawa keberuntungan. Ia dinyatakan tidak diterima alias gagal. Sedih tentu saja menghinggapi keluarga ini.

Sang anak yang dinamai Rahma Anugrah Madjid tidak putus asa. Dengan kemampuan beberapa bahasa asing yang dimilikinya, ia berangkat ke Spanyol. Ia kontrak kerja selama setahun sebagai guru privat bahasa bagi anak-anak pada salah satu keluarga.

Rupanya kedekatan dengan keluarga itu cukup baik, sehingga ketika kontrak akan berakhir, ia diminta untuk melanjutkan lagi. Tetapi kerinduan kepada keluarga di Indonesia membuat dirinya menolak perpanjangan kerja.
Setelah merasa terpuaskan melihat keluarga kecilnya, ia memutuskan kembali berlanglang buana ke negeri lain.

Tujuannya adalah India. Ia sempat bekerja di beberapa hotel. Tampaknya India bukan negara yang cocok dengan kondisi kesehatan dirinya.

Ia sempat sakit, hingga memutuskan kembali ke Indonesia. Semangatnya untuk membantu kehidupan keluarganya tidak pernah padam. Berbekal uang sisa asuransi yang semakin menipis, ia memutuskan ke Jakarta untuk mengadu nasibnya.

Setelah melewati beberapa kali tahapan seleksi, ia akhirnya dinyatakan lulus. Seleksi sangat ketat untuk posisi yang diinginkannya. Ternyata garis tangannya membawa arah yang mencerahkan. Ia diterima sebagai aparatur sipil negara tingkat pusat tanpa adanya campur tangan siapapun, kecuali atas izin Allah SWT.

Ia gagal di daerahnya, namun berhasil diterima di pusat. Ia termasuk perempuan berani, tangguh yang penuh optimistik memandang perjalanan nasibnya. Keberuntungannya bekerja pada salah satu badan yang mengurusi investasi membuatnya harus kerja keras. Karena kinerjanya dianggap bagus oleh pimpinan hingga ia menjadi orang dekat dengan Bosnya.

Pengalaman tugas ke luar negeri di beberapa negara telah dirambahnya apatah lagi daerah-daerah di Indonesia. Perjalanan nasib seseorang yang ‘terbuang’ di daerah akhirnya justeru berkiprah di pusat pemerintahan. Inilah garis tangan yang telah terukir di tangan seseorang. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved