Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Tuhan, Pengetahuan dan Peradaban

Bangunan peradaban manusia senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu, baik dari segi bangunan fisik maupun bangunan pemahamannya.

Editor: Sudirman
Muh Syakir Fadhli
Muh Syakir Fadhli, Staf Umum Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Multazam 

Oleh: Muh Syakir Fadhli

Staf Umum Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Multazam/Alumni Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Bangunan peradaban manusia senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu, baik dari segi bangunan fisik maupun bangunan pemahamannya.

Oleh karena itu manusia perlu mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan keduanya dalam rangka mempertahankan peradaban.

Kemampuan manusia dalam memahami setiap detail fakta, serta pemahamannya tentang fakta itu adalah kunci yang kelak membantunya tetap stabil mengarungi samudera kehidupan.

Sebab manusia diperhadapkan dengan berbagai perubahan seiring bergantinya generasi, bergulirnya waktu, dan tumbuhkembangnya budaya di berbagai wilayah.

Sejarah mencatat banyak hal tentang perubahan-perubahan itu: antara lain, dahulu ada negara yang kaya-raya, dan kini jatuh miskin.

Tak sedikit negara yang pernah berjaya dan berkuasa tetapi kini lemah dan dikuasai.

Kejahatan semakin marak: permainan mafia yang berakibat pada kelangkaan minyak dan gas, perampokan dan pembunuhan, bentrok dan perang suku, korupsi, kriminalisasi ulama, hingga pelecehan seksual dalam dunia pendidikan.

Nyaris tiada hari tanpa kejahatan. Berita kriminal seakan jadi menu wajib yang tidak mungkin tidak ada di meja makan sedari pagi, siang, hingga tengah malam.

Realitas yang menyedihkan itu senantiasa terjadi –yang mana sangat bertolak belakang dengan harapan manusia tentang terwujudnya peradaban: Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafûr.

Negeri yang Baik dan Tuhan yang Pengampun.

Perbuatan Manusia

Manusia memiliki akal yang dengannya ia mampu mengaitkan berbagai informasi sebelum mengambil keputusan atau menimbang sesuatu sebelum berbuat.

Seorang Ulama besar sekaligus pemikir asal Palestina bernama Taqiyuddin An-Nabhani pernah menulis buku berjudul Nizhâmul Islâm (Peraturan Hidup dalam Islam).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved