Opini Ilham Kadir
Bakda Ramadan
Para generasi saleh terdahulu umat ini berdoa kepada Allah enam bulan sebelumnya agar mereka disampaikan umurnya untuk masuk bulan Ramadan.
Selain melanjutkan kebiasaan berpuasa bakda Ramadan, amalan sunnah lainnya tetap ditegakkan. Terutama tadarrus Al-Qur’an, jika Ramadan bisa khatam maka di luar Ramadan juga harus khatam dengan durasi yang mungkin lebih lambat.
Demikian pula shalat malam, jika dalam Ramadan ada shalat tarwih, maka di luar ramadhan merutinkan shalat lail. Bisa dengan jumlah rakaat lebih sedikit dibandingkan dengan tarawih. Salat sunnah rawatib atau yang mengiringi shalat wajib juga harus dijaga. Artinya harus lebih awal datang ke masjid agar tidak tertinggal shalat sunnah.
Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah, terus menumbuhkan kesalehan sosial. Dalam Ramadan kita wajib menunaikan zakat, di luar Ramadan pun harus tetap berzakat jika harta kita sudah memenuhi syarat untuk dizakati.
Kalau belum, maka bisa berbagi lewat infak dan sedekah. Zakat, infak, sedekah, adalah ‘ibadah maaliyah ijtima’iyah, ibadah harta yang berdimensi sosial. Jadi shalat, puasa, haji, baru akan sempurna jika diiringi dengan ibadah zakat.
Zakat juga bermakna sebagai tolok ukur etos kerja seorang muslim khususnya bakda Ramadan. Sebab dia tidak akan berzakat jika penghalisannya belum mencapai 5,2 juta perbulan. Artinya kita semua dianjurkan untuk bekerka keras agar ada penghasilan untuk dikeluarkan zakatnya sebagai penyempurna keislaman, atau berislam secara kaffah. Jangan pernah bermimpi menjadi penganut Islam kaffah jika belum mampu berzakat. Wallahu A’lam! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-ilham-kadir-ma-pimpinan-baznas-enrekang-3.jpg)