Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Pendidikan yang Berberkah

Beberapa hari yang lalu. Seorang teman mengirimkan video singkat (dapat diakses di youtube), berjudul Barakka’na SikolaE (keberkahan sekolah).

Editor: Sudirman
Dok Pribadi
Setiawan Aswad Widyaiswara, BPSDM Prov Sulsel 

Setiawan Aswad

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan

Beberapa hari yang lalu. Seorang teman mengirimkan video singkat (dapat diakses di youtube), berjudul Barakka’na SikolaE (keberkahan sekolah).

Sebuah refleksi yang inspiratif dan menyentuh tentang sekolah yang kehilangan marwah, relevansi, elang vitalnya dalam membentuk siswa (seharusnya juga pendidikan dan tenaga kependidikan) yang berhati nurani.

Salah seorang pakar mengingatkan bahwa susah mengukur keberkahan itu.

Betul, tapi kami sepakat bahwa keberkahan itu lebih kepada membangun kesadaran, motivasi dan makna spiritual yang sebaiknya dikokohkan ketika melakukan kerja-kerja pendidikan.

Apakah keberkahan pendidikan itu, mengapa ia menjadi demikian penting serta bagaimanakah seharusnya pendidikan yang berberkah itu diraih di Sulawesi Selatan?

Keberkahan Pendidikan

Kita tentu memiliki tafsir yang beragam tentang keberkahan pendidikan.

Izinkan saya melukisnya sekuat yang saya bisa, dengan merujuk kepada video di atas dan beberapa referensi.

Berkah/barokah berarti nikmat, kebaikan yang terus bertambah, melimpah, ajeg dan bahkan abadi karena adanya intervensi Ilahiah yang bekerja di situ yakni kerahmatan Allah SWT.

Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara dan perbuatan mendidik.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak bangsa dan negara.

Demikian kurang lebihnya, silahkan diformulasikan sendiri makna keberkahan pendidikan.

Yang pasti, sejatinya secara normatif dan konsepsional, sistem pendidikan kita pada tingkat pertama, juga sangat mengakui dimensi spiritual keagamaan sebagai basis mencari keberkahan pendidikan kita yang berpusat pada tiga sentra (sekolah, keluarga dan masyarakat).

Tetapi kenyataan empiris dan nada kritis tentang kondisi kekinian pendidikan, sungguh mencerminkan fenomena ketertinggalan implementasi (implementation leg) terhadap cita-cita ideal yang diharapkan tadi.

Mencerdaskan Sulsel
Agar tercurah rahmat, maka tugas utama pendidikan adalah melahirkan insaniah yang cendikia (Ulil Albab), yaitu sosok yang mampu mengintegrasikan kualitas fikir dan zikir, sebagai upaya memantaskan manusia sebagai representasi Tuhan di muka bumi ini.

Cendikia yang tidak hanya belajar dan mengajarkan ilmu amaliyah, tetapi juga mampu beramal ilmiah sebagai indikasi kesalehannya (saleh individual, terlebih saleh sosial).

Untuk ini, pendidikan ditempuh sebagai upaya mencerdaskan semua pelaku pendidikan, terutama guru dan siswanya.

Cerdas hatinya, cerdas rasionya, cerdas rasanya dan cerdas raganya.

Hal ini dapat terwujud karena pendidikan memampukan mereka berpetualang mengolah hati, rasio, rasa dan raga dalam setiap aktivitas pembelajaran/pendidikan secara menarik dan bermakna.

Ketika mengupayakan keberkahan tersebut, banyak hal yang bisa dilakukan. Merujuk pendapat para pakar pendidikan, setidaknya ada tiga hal yang harus diupayakan.

Pertama, kemanfaatan. Keberkahan akan hanya terjadi, jika dipastikan pendidikan diorientasikan bagi terciptanya kemanfaatan yang sebesar-besarnya.

Tidak hanya bagi sekolah, khususnya siswa, akan tetapi dirasakan oleh lingkungan sekolah.

Dalam perspektif ini, penting untuk mempertimbangkan proses pembelajaran kontekstual yang memerdekaan sekolah, siswa dan guru dari kerangkeng eksklusitivas, membatasi konektivitas dan relevansinya dengan realitas lingkungan masyarakat sebagai ciri kemerdekaan pedagogi.

Dengan cara ini sekolah terhubung dengan masyarakat dengan segala dinamika persoalannya dan diharapkan bisa berkontribusi dalam pemecahannya.

Kedua, keberkahan itu terjadi manakala disandarkan pada keyakinan akan kebesaran Tuhan, keterbatasan dan penerimaan diri manusia akan eksistensi dan alasan penciptaannya.

Singkatnya harus ada sentuhan keimanan dalam proses pendidikan/pembelajaran.

Karenanya penting, misalnya bagi seorang pendidik muslim, untuk menyandingkan bacaan terhadap ayat-ayat qauliyah (tadabbur tekstual Al-quran) dan ayat-ayat kauniyah (tafakkur kontekstual semesta).

Melalui dialog ayat-ayat qauniyah dan kauliyah dalam pembelajaran, keyakinan akan kebesaran dan kekuasaan Ilahi yang menentukan keberkahan tersebut akan semakin dihayati dan dirasakan kehadirannya.

Kedua, transformasi dari suatu kondisi yang tidak menguntungkan ke kondisi yang lebih baik.

Ini merupakan peristiwa hijrah yang terkalkulasi secara matang, berbasis perbandingan antara idealitas yang ingin dicapai dan kondisi empiris kekinian yang dianggap perlu diubah.

Hijrah kebaikan yang harus diupayakan dan meniscayakan adanya pembelajaran/pendidikan (learning solution) sebagai titik pertama, utama dan strategis dalam mekanisme yang melembaga secara baik.

Ketiga, adanya kesungguhan dan keseriusan (jihad) dari pelaku pendidikan (sekolah, keluarga dan masyarakat) untuk mewujudkan kebaikan tersebut secara konsisten, sistematis, terukur dan berkelanjutan.

Upaya jihad ini tentu saja dapat mengambil ragam gerakan baik yang sifatnya struktural maupun kultural subtantif.

Secara struktural misalnya, dengan mengupayakan kebaikan tersebut melalui berbagai kebijakan, program dan kegiatan pemerintah.

Misalnya dengan penambahan kurikulum muatan lokal yang menguatkan literasi kitab suci peserta didik sebagai basis relasi sosial horizontal dan vertikal/transcendental dengan Sang Pencipta.

Gerakan kultural lebih kepada menguatkan proses edukasi, membangun wacana yang mampu merubah mindset dan sikap perilaku pelaku utama pendidikan.

Sebagaimana diinsiprasikan oleh Ki Hajar Dewantara, menjadikan setiap orang, waktu, tempat dan relung kehidupan menjadi arena belajar dan mengajar tentang sebuah kebaikan yang dicita-citakan. Demikian.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Berberkahlah siswanya, gurunya, sekolahnya dan pemerintahannya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved