Hasil Survei SABI
Anak Muda di Sulawesi Lebih Galaukan Karier dan Pekerjaan Dibanding Jodoh
Anak muda ( generasi milenial dan generasi Z ) di Pulau Sulawesi pada saat ini sedang galau karena berbagai persoalan hidup dihadapi.
Secara umum, mayoritas anak muda di Sulawesi menghadapi isu yang pertama dengan persentase 46 persen.
Masalah ekonomi yang paling bikin galau terdiri masalah bagaimana mendapatkan pekerjaan (22 persen) dan finansial (20 persen).
Sedangkan anak muda yang lebih galau dengan kesulitan non-ekonomi sebesar 35 persen.
Masalah non-ekonomi yang dicemaskan terdiri karier dan pekerjaan (20 persen), quarter life crisis (jati diri, self development); kemampuan bersosialisasi, adaptasi, membangun relasi, pergaulan, dll; persoalan akadaemik (tugas, perkuliahan, skripsi, belajar, dll) (masing-masing 5 persen).
Masalah percintaan (jodoh dan asmara) rupanya tak menjadi soal yang bikin galau bagi anak muda di Sulawesi sebab hanya 1 persen responden yang menghadapinya.
Masalah keuangan
Bentuk kesulitan finansial yang dihadapi oleh anak muda, antara lain ialah pendapatan yang tidak menentu, penghasilan menurun, besaran gaji yang kurang, pemborosan, dan kehabisan uang jajan.
Berdasarkan hasil survei, diduga setidaknya ada empat penyebab kesulitan tersebut, yaitu sindrom Fear of Missing Out , fenomena You Only Live Once, rendahnya literasi keuangan, dan menurunnya pendapatan kami karena pandemi.
Keterbukaan dan kecepatan arus informasi melalui berbagai platform media digital membuat sebagian anak muda terjerat sindrom Fear of Missing Out (FOMO), atau khawatir tertinggal sesuatu.
Bukan hanya tertinggal informasi, tetapi juga tren terbaru tentang apa yang dilakukan dan dimiliki orang lain.
FOMO ditandai dengan keinginan untuk selalu merasa menang dan tidak tertinggal dari orang lain.
Ketertinggalan dari orang lain akan membuat orang-orang dengan sindrom ini mengalami kecemasan.
FOMO bisa membuat seseorang merasa kesepian, memiliki self-esteem rendah, dan kurang mengasihi diri sendiri.
Orang-orang dengan sindrom ini rela menghabiskan uangnya, bahkan nekat berutang, untuk hal-hal yang cenderung tidak penting demi tetap up to date.
Jadi, FOMO bukan hanya merugikan kesehatan mental, tetapi juga berdampak buruk pada kondisi finansial anak muda.