Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Puasa Melatih Kepedulian Sosial

Memaknai puasa sebagai bagian dari ritual spritualitas umat Islam tidak hanya terfokus pada kepentingan individual.

Editor: Sudirman
M Affian Nasser
M Affian Nasser, Alumnus Pondok Pesantren Modern Babussa’adah Bajo 

M Affian Nasser

Anggota SANAD TH-Khusus Makassar dan Alumnus PPMBS Bajo

Memaknai puasa sebagai bagian dari ritual spritualitas umat Islam tidak hanya terfokus pada kepentingan individual.

Puasa tidak hanya sebagai momentum memperkuat hubungan transendensi, namun lebih dari itu, puasa mengandung nilai-nilai sosial terhadap sesama yang harus kita tumbuhkan dan pelihara.

Sebab itu, kehadiran ibadah puasa di bulan Ramadhan tidak hanya sebagai rutinitas belaka, namun ia mengandung gugatan besar atas keberagamaan kita.

Peter L. Berger meyakini bahwa agama merupakan kanopi suci (the sacred canopy) yang akan membebaskan serta melindungi manusia dari berbagai chaos atau segala bentuk kekacauaan hidup.

Jika dikontekstualisasikan dengan kehidupan kontemporer sekarang ini, maka kita akan melihat suatu realitas yang berbanding terbalik dengan kehidupan yang diharapkan.

Artinya, bahwa agama belum mampu menopang kehidupan bernegara dengan hadirnya berbagai chaos yang senantiasa menyelimuti kehidupan kita.

Dalam hal ini, puasa dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki diri serta memperbaiki tatanan kehidupan masyarakat.

Saatnya puasa menjadi refleksi bagi kita semua untuk mengorek lebih dalam lagi akan keberagamaan kita. Baik secara transendensi maupun secara kehidupan sosial kita.

Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan, bahwa puasa dapat menjadi wadah aktualisasi diri dalam menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat secara seimbang.

Hal utama yang penting untuk kita pahami ialah memahami hakikat puasa itu sendiri.

Puasa tidak harus dimaknai sebagai kegiatan formalitas belaka, namun harus dimaknai sebagai kegiatan yang mempunyai nilai-nilai substansial dalam memperkuat diri.

Maka umat Islam harus mewaspadai gelombang arus formalis yang banyak dijumpai dalam kehidupan faktual keberagamaan kita.

Mengingat banyaknya godaan dan gejolak hawa nafsu yang selalu mengintai selama aktifitas puasa kita.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved