Opini Tribun Timur
Bissu Dalam Pusaran Relasi Kuasa
Peristiwa absennya peran bissu pada panggung di acara Hari Jadi Bone (kemudian ditulis HJB) adalah lonceng pengingat saja yang kebetulan berdenting
Sopian Tamrin
Dosen Jurusan Sosiologi – Antropologi Universitas Negeri Makassar
Peristiwa absennya peran bissu pada panggung di acara Hari Jadi Bone (kemudian ditulis HJB) adalah lonceng pengingat saja yang kebetulan berdenting kembali.
Lonceng kematian budaya (siri, warani dan macca, lempu,dst.)
Tulisan ini alih - alih ingin menyanjung tinggi posisi bissu sebagai penjaga budaya atau berupaya memproduksi pandangan yang membela pemerintah, tidak keduanya.
Polemik ini justru menarik untuk memeriksa ulang keduanya dalam konteks relasi kuasa.
Relasi kuasa adalah istilah yang dipopulerkan oleh sosiolog prancis bernama Michel Foucault dalam karyanya yang berujudul Power and Knowlegde (1980).
Konsep ini dalam rangka menjelaskan bagaimana kekuasaan menentukan hubungan antara kelompok dalam masyarakat dengan memanfaatkan pengetahuan sebagai instrument legitimasi.
Kehadiran bissu pada periode awal menunjukkan rezim pengetahuan yang dominan pada periode tersebut.
Pergeseran atau pelemahan peran bissu bermula beralihnya sistem kepercayaan masyarakat Bone yang diawali dengan perang musuh selleng.
Bone sendiri secara resmi memeluk ajaran islam pada masa kepemimpinan La Tenriruwa sekitar tahun 1611 Masehi.
Fase transisi ini disebut Foucault dalam arkeologi pengetahuan (1969) sebagai ‘diskontinuitas’ dimana dari kerajaan lagaligo/versi mitologi menuju kerajaan historis (baru) mengalami perubahan pengetahuan yang dominan.
Sebagaimana pengetahuan tradisional yang mengafirmasi sepenuhnya praktik ritual di lingkaran kerajaan dengan kehadiran pengetahuan dan pemahaman keberislaman pemimpin yang melihat bissu melenceng dari syariat.
Kemudian tahun 1950-an hingga 1960-an menjadi masa suram bagi bissu yang terus menerus mengalami kekerasan dan dipaksa menjadi laki-laki normal (Lathief, 2007).
Sebagaimana hasil penelitian Suheri (2021) bahwa keberadaan Islam memiliki pengaruh dominan terhadap status sosial Bissu, yang mengakibatkan peran mereka sebagai pemimpin ritual adat kurang dihargai oleh masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sopian-tamrin-spd-mpd.jpg)