Tiga Calo CPNS di Enrekang Akhirnya Dijebloskan ke Penjara, Satu Tersangka Masih Buron
Seperti diketahui, saat ini Polres Enrekang sudah menahan tiga pelaku calo CPNS.
Penulis: Tommy Paseru | Editor: Saldy Irawan
TRIBUNENREKANG.COM,ENREKANG -- Satu orang pelaku sindikat calo calon pegawai negeri sipil (CPNS) Enrekang 2021 masih di buru polisi, Rabu (23/3/2022).
Seperti diketahui, saat ini Polres Enrekang sudah menahan tiga pelaku calo CPNS.
Dua diantaranya merupakan ASN dan satu lagi berstatus honorer Pemkab Enrekang.
Ketiganya pun kini sudah berstatus tersangka.
"Kami masih buru satu pelaku lagi, dia warga Enrekang tapi statusnya bukan ASN," jelas Humas Polres Enrekang, Iptu Agung Yulianto via seluler Rabu malam.
Agung belum terlalu membeberkan informasi terkait kasus tersebut.
Itu kata dia, demi kepentingan proses penyelidikan.
Meski demikian, ia mengungkap, pelaku akan dikenakan pasal UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara.
"Kita masih mendalami. Tapi kami kenakan UU ITE ancaman 6 tahun penjara," ujarnya.
Tiga tersangka itu bernama Erfan, Samsul, dan Rahman.
Erfan adalah ASN di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Enrekang.
Samsul Kasubag Publikasi Dokumentasi di Setda Enrekang.
Kemudian Rahman merupakan honorer yang baru terangkat P3K di SMP Negeri 1 Enrekang.
Tiga tersangka memiliki peran berbeda. Erfan dan Rahman berperan sebagai operator atau hacker.
Keduanya mengoperasikan hasil tes dari jarak jauh.
Sementara Samsul yang memposisikan CPNS duduk sesuai komputer yang telah dipasangi alat.
Dikonfirmasi, Sekretaris panitia CPNS 2021, Budiman S Fatah mengutarakan, tiga tersangka itu bukan panitia CPNS 2021.
Bukan juga pegawai dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Enrekang.
Pelaku Samsul kata dia, memiliki akses masuk di ruang ujian CPNS dikarenakan untuk kepentingan dokumentasi.
Pasalnya, saat itu jabatannya sebagai Kasubag Publikasi Dokumentasi di Setda.
"Kami kira pelaku ini hanya untuk kepentingan dokumentasi, karena memang jabatannya kemarin di Setda," bebernya.
Menurut Budiman, dari hasil pemeriksan Badan Kepegawaian Negara (BKN) dari 70 komputer ada beberapa yang ditanami aplikasi kontrol jarak jauh.
"BKN sebenarnya kecolongan juga. Karena kabarnya aplikasi itu ditanam sebelum sterilisasi komputer,"
"Nah, setelah sterilisasi itu BKN sama sekali tidak mendapati aplikasi kontrol itu," ucapnya.
Laporan Kontributor : TribunEnrekang.Com,@b_u_u_r_y