Opini AM Sallatu
Opini AM Sallatu: Tera Ulang Makna Pembangunan
Manusia Indonesia masih lebih banyak menjadi sasaran dan tujuan pembangunan,obyek, dan hanya sejumlah kecil yang bisa mampu menjadi pelaku pembangunan
Tera Ulang Makna Pembangunan
Oleh: AM Sallatu
Pendidik dan Peneliti
TRIBUN-TIMUR.COM - Apakah pembangunan masih dibutuhkan? Pembangunan merupakan suatu hal yang niscaya. Mengapa?
Oleh karena sebagaimana batasannya, pembangunan merupakan upaya yang secara sadar dilakukan melalui suatu proses agar mampu meningkatkan dan mengembangkan kehidupan dalam jangka panjang.
Sayangnya batasan ini banyak dilupakan, terutama kata kuncinya, yaitu dilakukan secara sadar melalui proses untuk meningkatkan kehidupan dalam jangka panjang.
Di tanah air, pada era orde baru, bahkan ditambahkan pula makna yang esensial, yaitu bahwa manusia adalah obyek dan sekaligus subyek dari pada pembangunan.
Itupun, ternyata sepanjang lebih tiga dekade kekuasaan rezim orde baru, hanya menjadi cita-cita belaka. Perkembangan dan kemajuan pesat yang dicapai ternyata belum mampu membebaskan (bahagian terbesar) manusia Indonesia.
Manusia Indonesia masih lebih banyak menjadi sasaran dan tujuan pembangunan, obyek, dan hanya sejumlah kecil yang bisa mampu menjadi pelaku pembangunan, subyek.
Sejarah pembangunan (ekonomi) orde baru telah tercatat menghasilkan kemajuan terutama dalam makna pertumbuhan ekonomi, namun sekaligus mewariskan biaya pertumbuhan dalam bentuk ketidak-adilan, ketimpangan, kemiskinan, pengangguran, daln lain-lain.
Pembangunan ternyata bukan hanya tidak efektif, melainkan juga sangat boros dalam pemanfaatan sumberdaya alam bahkan sumberdaya manusia.
Sejatinya, semua ini yang ingin dikoreksi dengan melakukan reformasi. Tetapi setelah lebih dua dekade, tetap saja kinerja pembangunan belum banyak memberikan perubahan dan perbaikan dibandingkan dengan kinerja orde baru.
Oleh karena itu mungkin ada baiknya untuk ditelaah kembali, seperti apa sebenarnya maksud ungkapan manusia sebagai obyek dan sekaligus subyek pembangunan itu?
Sejarah pembangunan sudah berjalan sangat panjang, sudah lebih dari setengah abad.
Inti penelaahan yang patut dilakukan adalah apakah bila manusia Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai obyek pembangunan, tetapi sekaligus sebagai subyek dari pada pembangunan itu sendiri, memiliki basis pemikiran logis.
Dan, dengan demikian ungkapan diatas, bukan hanya pada tataran pemikiran teoritik belaka.
Sulit untuk menyangkal bahwa perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara maju memperlihatkan bukti empirik bahwa manusianya adalah pelaku utama perkembangan dan kemajuan mereka.
Bahkan lebih jauh lagi, memosisikan manusia sebagai pelaku dalam pembangunan, justru menjamin struktur pembangunan akan lebih kuat dan kokoh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/am-sallatu_20170917_000133.jpg)