Kuliah Umum

Rektor IPB Prof Arif Satria Beri Kuliah Umum di Unismuh Makassar, Bahas Tiga Disrupsi Besar

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat juga Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria memberikan Kuliah Umum DI Unismuh.

unismuh
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat juga Rektor IPB University Prof Arif Satria foto bersama rektor Unismuh usai memberikan Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Kamis (18/2/2022). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat juga Rektor IPB University Prof Arif Satria memberikan Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Acara ini dihelat di Gedung Iqra Lantai 17, Kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (17/2/2022)

Kedatangan Prof Arief Satria di Unismuh, didampingi Sekjen ICMI Dr Andi Yuliani Paris, beserta pengurus ICMI dan Masika ICMI Sulsel.

Rektor Unismuh Prof Ambo Asse memberikan pengantar dengan memberikan ucapan selamat kepada Arief Satria dan Andi Yuliani Paris sebagai Ketua Umum dan Sekjen ICMI. Nakhoda Unismuh ini  juga memberikan gambaran umum tentang Unismuh.

Acara kuliah umum dipandu Wakil Rektor II Unismuh Makassar Dr Andi Sukri Syamsuri, MHum.

Peserta yang hadir terdiri dari para Wakil Rektor, Dekan, Ketua Badan/Lembaga tingkat Universitas dan Wakil Dekan dalam lingkup Unismuh Makassar.

Mengawali pemaparannya, Prof Arief Satria merasa datang ke rumah sendiri. Ia merupakan alumni SMA Muhammadiyah Pekajangan, dan menjadi Pengurus Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah pada era kepemimpinan Prof Din Syamsuddin.

“Saya turut terlibat memberikan masukan dalam penyusunan konsep Indonesia Berkemajuan, Bersama Pak Din Syamsuddin, Pak Haedar Nashir, dan tokoh-tokoh PP Muhammadiyah lainnya,” jelasnya.

Tiga Mega Disrupsi

Arif Satria memaparkan kuliah umum berjudul Good University Governance Menuju Universitas Adaptif di Era New Normal.

Saat ini, katanya, dunia sedang mengalami tiga mega disrupsi.

Yakni perubahan iklim, revolusi industri 4.0 dan pandemi Covid-19.

“Perubahan iklim sudah kita rasakan dan sudah semua menyaksikan urgensi bagaimana adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, berdampak besar ke pertanian, kesehatan, sosial dan energi, dan lainnya,” ujarnya.

Sedangkan revolusi industri 4.0 ditandai dengan banyaknya teknologi baru yang berdampak ke dunia bisnis, prilaku individu, dunia pendidikan dan lain sebagainya. Saat ini, setiap individu harus bisa beradaptasi dan menguasi skill-skill baru.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved