Covid 19
Apa yang Harus Dilakukan Jika Alami Gejala Omicron Tapi Hasil Tes Negatif? Ini Saran Ahli
Para ahli meyakini bahwa varian ini memiliki lebih banyak mutasi daripada jenis aslinya, yang membuatnya sangat mengkhawatirkan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Kasus baru positif covid-19 di Indonesia kembali melonjak.
Satgas Covid-19 melaporkan kasus baru infeksi corona di Indonesia per 8 Februari 2022 tercatat 37.492 kasus.
Seiring dengan peningkatan kasus covid-19, masyarakat diminta untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.
Baca juga: Sering Digunakan di Indonesia, Mampukah Sinovac Hadapi Omicron? Ilmuwan Ungkap Hasil Penelitian
Baca juga: Pedoman bagi Penderita Varian Omicron, Mulai Lama Isolasi Hingga Waktu yang Tepat Bertemu Orang
Apalagi varian omicron lebih cepat menyebar dibanding varian sebelumnya.
Selain taat prokes, penting bagi kita untuk mengetahui gejala-gejala terjangkit Omicron.
Hal ini untuk menekan penyebaran virus corona.
Namun kerap jadi pertanyaan, bagaimana jika kita mengalami gejala Omicron tapi hasil tes negatif?
Apa yang Harus Dilakukan? Berikut penjelasannya.
Melansir Times of India, stealth Omicron atau BA.2 adalah subvarian dari varian Omicron yang sangat mudah menular.
Para ahli meyakini bahwa varian ini memiliki lebih banyak mutasi daripada jenis aslinya, yang membuatnya sangat mengkhawatirkan.
Saat ini 'variant under investigation', Badan Layanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengatakan bahwa sub-strain berada satu tingkat di bawah status 'variant of concern'.
Baca juga: Cara Mengetahui Tubuh Terinfeksi Omicron, Jika Rasakan Gejalanya Segera Periksakan Diri
Baca juga: Waspadai 5 Gejala Tak Biasa Varian Omicron yang Dirasakan saat Bangun Tidur
Badan kesehatan telah menyarankan bahwa virus itu menyebar jauh lebih cepat daripada jenis BA.1, dan juga dapat lolos dari pelacakan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejumlah negara telah melaporkan peningkatan baru-baru ini dalam proporsi urutan BA.2.
Saat data tentang jenis virus sejauh ini sangat terbatas, organisasi kesehatan global mendesak negara-negara untuk melanjutkan pengujian, pengawasan, dan pengurutan.
Sangat menular dan lebih sulit dilacak Laporan terbaru menunjukkan bahwa subvarian baru telah terdeteksi di sebanyak 54 negara.