Produktivitas Padi di Pinrang Merosot
Hasil rapat memutuskan saluran irigasi yang mengalir ke Duampanua ditutup sementara per Oktober 2021 sampai Maret 2022.
Penulis: Nining Angraeni | Editor: Abdul Azis Alimuddin
TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Dampak pengerjaan irigasi mulai dikeluhkan warga Duampanua, Pinrang.
Saluran irigasi yang mengalir ke wilayah Kecamatan Duampanua ditutup sejak Oktober 2021.
Kendati saluran irigasi ditutup, petani masih tetap menanam dengan mengandalkan tadah hujan.
Namun, poduksi padinya merosot jauh.
Penutupan saluran irigasi diputuskan dalam rapat di Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air atau PSDA Pinrang.
Hasil rapat memutuskan saluran irigasi yang mengalir ke Duampanua ditutup sementara per Oktober 2021 sampai Maret 2022.
Proyek tersebut membuat petani banyak yang memilih untuk tidak menanami lahan pertanian mereka.
Baca juga: Prof Nasaruddin Umar dan Amran Mahmud Bahas Buku Ke-Asadiyahan
Khususnya lahan persawahan karena ketidaktersediaannya air di saluran irigasi.
Diketahui, Januari ini mulai memasuki musim panen bagi para petani.
Salah satu petani di wilayah Pekkabata Suardi mengatakan hasil panen yang didapat jauh dari dibayangkan.
Hal itu dikarenakan serangan hama tikus dan tidak adanya air.
Sehingga membuat sawah kering dan merusak tanaman padi.
Suardi menyebutkan, hasil panen yang diperoleh hari ini sangat jauh dari rata-rata yang dia dapatkan.
“Panen kali ini rugi. Per setengah hektare itu kami hanya peroleh setengah karung,” kata Suardi, Senin (10/1/2022).
Baca juga: Dinilai Abaikan Permintaan Pengadilan, Pengacara Gihon Abadi Jaya: Aneh, BPN Terbitkan Sertifikat
Suardi pun berharap ada solusi diberikan pemerintah.
“Misalnya, ada bantuan bibit yang cocok ditanami di lahan kering,” ucapnya.
Begitu pula yang dialami petani lainnya yakni Hadda.
Hasil panennya jauh menurun dari sebelumnya.
“Saya hanya dapat satu ember dari 25 are yang saya tanami,” sebutnya.
Hadda menuturkan jika ia tidak lagi menanami lahan persawahannya setelah panen ini.
“Kami berharap ada jalan keluar. Salah satunya ada bantuan bibit. Misalnya tanaman palawija pengganti padi yang cocok,” katanya.
Meski begitu, Hadda berharap jika pun ada bantuan bibit, pemerintah harus betul-betul memperhatikan komoditas yang layak untuk ditanami.
"Mengingat kondisi lahan persawahan kami kan berbeda-beda. Jadi perlu disesuaikan," harapnya.
Terpisah, Kadis Pertanian dan Hoktikultura Kabupaten Pinrang, Andi Tjalo Kerrang mengakui adanya dampak dari pengerjaan proyek irigasi dengan menutup pintu air.
“Yang dikerja itu saluran air induk Pekkabata,” katanya.
Di Kecamatan Duampanua, potensinya ada sekitar 7.200 hektar yang sawah.
Artinya yang terkena dampak nanti jumlahnya di angka tersebut.
Pihaknya mengaku telah mendengar adanya keluhan tersebut serta permintaan dari petani agar ada alternatif ditawarkan.
Saat ini, pihaknya sementara mendata kebutuhan petani yang terdampak.
"Sementara di data oleh penyuluh ke petani apa kebutuhan mereka. Bisa saja nanti jagung dan itu kita minta di Provinsi Sulsel untuk bisa menyiapkan," jelasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/mappalili-di-kelurahan-tonyamang-kecamatan-patampanua-pinrang-rabu-19052021.jpg)