Klakson
Hargai Alam
Kemarau dan hujan silih berganti sesuai jadwalnya. Sawah dan ladang tak pernah menganggur menampung tanaman warga.
Oleh: Abdul Karim
Majelis Demokrasi dan Humaniora
Kampung kami tergolong subur. Apa saja ditanam niscaya tumbuh tak membuat kecewa.
Kemarau dan hujan silih berganti sesuai jadwalnya. Sawah dan ladang tak pernah menganggur menampung tanaman warga.
Tikus-tikus hama hidup berdampingan dengan belut ditengah sawah dengan padi-padi yang menguning.
Ketika hari panen tiba, seorang tetua kampung diundang ke sawah untuk memulai panen raya.
Disudut sawah saat pagi buta, sang tetua membakar dupa dan sabuk kelapa kering seraya memanjatkan doa-doa.
Panen dimulai saat sang tetua beranjak pergi. Panen tak sah, tanpa proses seperti itu.
Begitulah cara orang dikampung kami menghargai rezeki dari Tuhan berupa padi, sawah, dan hujan yang menyuburkan padinya.
Adab dan doa diseiringkan bersama. Itu sekaligus menunjukkan betapa mereka menghargai alam raya nan kaya ini.
Di zaman itu, begitu tinggi penghargaan manusia pada alam beserta isinya--setidaknya di kampung kami.
Pohon-pohon begitu rindang dan rimbun. Pepohonan tak boleh dilukai dengan memperlakukannya secara sewenang-wenang.
Saya ingat betul, disaat masih duduk di bangku SD. Disuatu siang, seorang orang tua mendapatiku melompat memukul dedaunan pohon jarak.
Perilaku iseng ini tak kusangka mendapat teguran dari orang tua itu.
Ia bilang; "jangan engkau memukul daun-daun itu, sebab daun-daun itu pun mahluk seperti kita. Ia hidup dan dihidupkan oleh Allah SWT. Engkau memukulnya, berati engkau menyakitinya. Mengapa engkau menyakitinya sementara ia tak menyakitimu?".
Begitulah cara kecil orang dikampung menghargai alam dan isinya.
Kini, pengharagaan pada alam nyaris sirnah. Ia sirnah lantaran dihabisi ambisi kekuasaan dan pembangunan.
Apalagi dengan trend pemelihan langsung dalam pemilu dan pilkada sumberdaya alam kita nyaris tergadai. Logika PAD menghabisinya.
Lihatlah hutan habis dibabat untuk keperluan industri dan ekspor.
Laut dan pesisir dieksploitasi atasnama pembangunan. Gunung-gunung pun hilang akibat tambang dan sejenisnya.
Semua dikeruk begitu saja tanpa ada pertimbangan-pertimbangan manusiawi. Sialnya, semua dihabisi bukan untuk konsumsi warga kampung.
Dan cepat atau lambat efek langsung dari ke masyarakat terasa merugikan.
Lihatlah misalnya, rumah batu telah massif masuk kampung.
Bukan lagi rumah kayu, sebab kayu dihutan telah habis dibabat untuk keperluan industri dan perdagangan lainnya.
Padahal, rumah kayu begitu minim efeknya dibanding rumah batu saat bencana alam melanda.
Lalu bencana alam misalnya, datang hampir setiap tahun.
Warga terdampak langsung dengan ini apapun judul bencananya. Kemarin kita lihat di layar-layar medsos vidio dan foto banjir di beberapa daerah--rakyatlah terdampak langsung demgan ini semua.
Di kota Makassar, kita lihat banjir menguasai kota megah ini. Walikota berseloroh; "ini bukan banjir, hanya genangan". Namun apapun argumennya, rakyat nyata terendam.
Beberapa tahun silam, kami (LSM) diundang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait rencana reklamasi saat itu.
Kami berpendapat reklamasi berpotensi mendatangkan bencana. Namun pendapat itu tak diakomodir dalam pengambilan keputusan. Proyek reklamasi dilancarkan. Dan kini, "genangan" menyengsarakan warga.
Dengan itulah, barangkali kita perlu lebih serius menghargai alam. Jangan disemena-menakan untuk keperluan proyek dan argumen pembangunan.
Penghargaan pada alam perlu diintensifkan dibangun lagi, ditularkan pada generasi mendatang.
Sebab puluhan tahun lamanya, tradisi penghargaan pada alam telah terbabat ditelan masa dimana kekuasaan diatas segalanya.
Penghargaan pada alam dari generasi ke generasi terputus oleh aneka kepentingan ekonomi politik kalangan atas.
Hujan memang tak kuasa ditolak, tetapi banjir ataupun genangan dapat diminimalisir sebenarnya. "Hargailah alam agar engkau berharga", kata tetua kampung dahulu.(*)
Tulisan ini juga diterbitkan pada harian Tribun Timur edisi, Rabu (08/12/2021).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/khutbah.jpg)