Kilas Tokyo
Kisah Sang Siswa
SIAPA pun tidak akan membantah, pendidikan dasar adalah satu sektor vital. Berdasar berbagai survei, beberapa negara Asia dan OECD dianggap berhasil
Muh Zulkifli Mochtar
Doktor alumni Jepang dan bermukim di Tokyo
SIAPA pun tidak akan membantah, pendidikan dasar adalah satu sektor vital.
Berdasar berbagai survei, beberapa negara Asia dan OECD dianggap berhasil membangun pendidikan dasarnya.
Singapura, Hongkong, Finlandia, Kanada, Swedia misalnya.
Jepang juga salah satunya, terlihat secara konsisten selalu berada di peringkat tinggi perankingan internasional.
Terakhir, ranking Program for International Student Assessment 2018 di 79 negara di dunia, siswa Jepang terbaik bidang matematika dari semua negara OECD.
Juga nomor dua terbaik di negara OECD untuk bidang science.
Ironisnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi (MEXT) Jepang dalam survey tahun 2019 menemukan sekitar 540 ribu kasus bullying dilaporkan di sekolah.
Meningkat dari tahun ke tahun sebesar 31 persen.
Ketidakhadiran di sekolah dan bunuh diri juga meningkat.
Sebelum pandemi Covid-19, juga ada berita sedih penyakit sosial ‘hikikomori’ yakni kecenderungan seseorang mengisolasi diri dalam kamar dan tidak mau berinteraksi dengan dunia luar yang jumlahnya ratusan ribu.
Dari sinilah, ada kalangan yang mengkritisi pengajaran sekolah Jepang saat ini.
Sistem berlebihan pada aturan dan kepatuhan dianggap salah satu penyebab suasana terlalu ketat dan membosankan.
Tidak memerlukan aturan detail jenis peralatan yang boleh dibawa ke kelas misalnya, atau aturan tentang rambut dan berbagai keseragaman lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilustrasi-siswa-di-jepang-2372021.jpg)