Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

Penguatan Civil Society Berbasis Agama dan Budaya

Selanjutnya RAS harus punya organisasi yang kuat dengan gaya kepemimpinan yang mengkombinasikan antara kharismatik, transaksional, dan transformatif. 

Editor: Saldy Irawan
DOK TRIBUN TIMUR
Dosen FISIP Unismuh Makassar dan anggota Forum Dosen Majelis Tribun Timur, Amir Muhiddin 

TRIBUN-TIMUR.COM - MENARIK apa yang digagas oleh Bapak Abd Rahim Assegaf, yang akrab dipanggil Puang Makka, seorang kharismatik dan memiliki banyak jamaah dan pengikut setia, mulai dari pejabat tinggi level nasional, pejabat level daerah, pengusaha, sampai kepada jamaah dan pengikut akar rumput.

Sabtu, 30 Oktober 2021, beliau me-launching suatu lembaga yang disebut Rahim Assegaf Center disingkat RAS, saya salah seorang yang diundang untuk memberi sambutan sekaligus harapan akan berdirinya RAS ini. 

Bagi saya lembaga ini menarik karena beberapa hal, pertama didirikan oleh seorang tokoh yang selama ini dikenal sebagai tokoh agama kahrismatik, dan pemimpin Tarekat Khalawatiah Syekh Yusuf Al-Makassary. 

Ketokohannya bukan saja karena kapasitas dan kapabilitas personalnya, tetapi juga karena titisan darah biru Syekh Sayyid Jamaluddin Puang Makka. Pendiri NU Sulawesi Selatan dan pendiri Tarekat Khalawatiah Syekh Yusuf Al-Makassary. 

Yang kedua lembaga ini didirikan dengan visi dan misi yang juga menarik. Visinya adalah Menjadi lembaga yang

dapat berkontribusi secara kongkret terhadap pengembangan dan penguatan Civil Society berdasarkan nilai-nilai agama, budaya dan kemanusiaan. 

Sementara itu, misinya ada tiga. 

Pertama, melaksanakan kajian-kajian keagamaan, sosial, dan budaya secara sistimatis dan komprehensif.

Kedua, memfasilitasi kegiatan-kegiatan sosial pemberdayaan masyarakat.

Ketiga, menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait.

Visi dan misi RAS jika dilihat dari realitas sosial dan politik tambah menarik karena ada kata “Penguatan civil society berdasarkan nilai agama, budaya dan kemansiaan.” Ada kesan bahwa lembaga ini manaruh perhatian

pada realitas politik, dimana pemerintah baik eksekutif, legisltaif maupun yudikatif sangat kuat, nyaris tidak ada kekuatan tandingan yang bisa menciptakan balance of power dan dalam waktu yang bersamaan masyarakat

menjadi sangat lemah, mereka kurang bersuara, sebagaian cenderung permisif dan nyaris apatis. 
David Aston menggambarkan negara dan pemerintahan seperti ini sangat membahayakan karena cenderung melahirkan otoritarisme dan pada gilirannya menyuburkan KKN.

Kehadiran RAS sebagai lembaga dengan misi mengembangkan dan memberi penguatan pada civil society adalah salah satu bentuk keresahan dan kegelisahan melihat realitas politik dimaksud di atas, mereka yang terlibat di

dalamnya masih punya rasa opitimisme dan melihat masih ada peluang yang bisa dilakukan, bukan saja dalam bentuk kajian konsep dan teoritik, akan tetapi juga sebuah gerakan ril untuk memfasilitasi kegiatan sosial dalam rangka pemberdayaan masyarakat. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved