Tribun Bisnis
Wujud Komitmen ESG, Pertamina Dampingi Masyarakat Pelosok Cindakko Naik Kelas
Pertamina juga memberikan kotak di rumah masing-masing warga agar lebih mudah membudidayakan lebah.
Penulis: Sukmawati Ibrahim | Editor: Hasriyani Latif
Pertamina juga memberikan kotak di rumah masing-masing warga agar lebih mudah membudidayakan lebah.
"Jadi kami tidak perlu ke hutan lagi, cukup di rumah saja," ucapnya.
Ia berharap, Cindakko ke depannya berkembang, meningkat dan masyarakat semakin sejahtera.
"Terima kasih Pertamina atas pendampingan dan ilmu barunya," imbuhnya.
Salah satu warga, Suri (50) mengatakan, banyak yang berubah sejak kehadiran Pertamina di Cindakko.
"Alhamdulillah, semoga jai tommi ngissengki pa'rasangangka ri Cindakko (semoga banyak yang kenal tempat tinggal kami di Cindakko," kata ibu tiga anak ini.
Serupa disampaikan Dg Lajju (50) seorang Petani Madu.
Bapak 7 anak ini mengaku sejak 20 tahun lalu mencari nafkah dengan mencari madu di hutan Cindakko.
Setiap harinya ia berangkat jam 06.00 Wita, ia baru tiba di rumahnya saat pukul 17.00 Wita. Kadang juga sampai malam.
Hasilnya pun tak menentu, kadang dapat dua botol atau lebih. Seringkali ia pulang dengan tangan kosong.
Namun, bagi dia pekerjaan beresiko ini salah cara untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.
"Hasilnya kujual di pasar. Biasa juga ke tetangga," katanya sembari menatap ke arah sungai.
Per botolnya, biasanya ia jual seharga Rp 80 ribu. Kadang pula, jika di Pasar ia menjualnya seharga Rp 100 ribu per botol.
Menurut dia, tak hanya menempuh perjalanan jauh, masuk hutan, sembarangi sungai, manjat gunung.
Risiko disengat Lebah sangat tinggi. Apalagi, Dg Lajju ini sama sekali tidak punya Alat Pelindung Diri (APD).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/rumah-warga-cindakko-desa-bonto-somba-kecamatan-tompobulu-kabupaten-maros-sulawesi-selatan.jpg)