Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Istri Yoris Mulai Takut Suaminya Juga Dibunuh Seperti Tuti dan Amalia di Subang,Status di FB Disorot

Yoris sempat mencurahkan tulisan tentang kematian, kebencian, kecemburuan, pertengkaran dan persaingan melalui media sosial Facebook.

Editor: Waode Nurmin
Kolase TribunJabar-YouTube tvOnenews
Yoris angkat bicara soal alasan menuliskan status tentang kematian di akun Facebook-nya pada 30 Agustus 2021 

TRIBUN-TIMUR.COM - Status Facebook  Yoris Raja Amanullah anak Tuti korban pembunuhan ibu dan anak di Subang, menjadi sorotan baru-baru ini.

Status Yoris itu diposting tidak lama setelah ibu dan adiknya ditemukan tewas mengenaskan di bagasi mobil Alphard.

Tuti Suhartini (54) dan adiknya, Amalia Mustika Ratu (23) kehilangan nyawa secara mengenaskan di Jalancagak, Subang, 18 Agustus 2021 silam.

Setelah peristiwa tragis tersebut, Yoris sempat mencurahkan tulisan tentang kematian, kebencian, kecemburuan, pertengkaran dan persaingan melalui media sosial Facebook.

Hal itu menjadi sorotan lantaran seolah berhubungan dengan apa yang menimpa Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu tewas terbunuh.

Yoris buka suara soal statusnya di Facebook setelah pembunuhan ibu serta adiknya, Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23) di Jalancagak, Subang, Jawa Barat.
Yoris buka suara soal statusnya di Facebook setelah pembunuhan ibu serta adiknya, Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23) di Jalancagak, Subang, Jawa Barat. (YouTube tvOnenews)

Yoris mengunggah curhatan di status akun Facebook-nya pada 30 Agustus 2021, belum lama setelah kasus pembunuh ibu dan anak di Subang terjadi.

"Kamu datang telanjang,

Kamu pergi telanjang.

Kamu tiba dalam kondisi lemah,

Kamu meninggalkan duniapun dalam kondisi lemah.

Kamu datang tanpa uang dan barang, Kamu juga akan pergi tanpa uang dan barang.

Mandi pertamamu? Seseorang membasuhmu, Mandi terakhirmu? Seseorang akan memandikanmu.

Inilah kehidupan!

Jadi mengapa begitu banyak kebencian, begitu banyak kecemburuan, begitu banyak pertengkaran, begitu banyak persaingan, begitu banyak keegoisan dan begitu banyak kebanggaan?

mengapa? sementara kita harus pergi dengan tangan kosong?

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved