Breaking News:

Virus Corona

Peringatan WHO: Varian Mu Berbahaya, Kebal Terhadap Vaksin

Dalam bulletin mingguannya, organisasi kesehatan dunia atau WHO mengatakan, akan memantau penyebaran varian Mu.

Editor: Muh. Irham
Freepik
Ilustrasi virus corona 

TRIBUN-TIMUR.COM - Baru-baru ini dunia kembali dikejutkan dengan hadirnya varian baru virus corona yang diberi nama Mu SARS-CoV-2. Varian baru ini pertama kali terdeteksi di Kolombia.

Dalam bulletin mingguannya, organisasi kesehatan dunia atau WHO mengatakan, akan memantau penyebaran varian Mu.

Dilansir The Hill, menurut WHO, varian Mu pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari.  Varian yang telah ditemukan memiliki perubahan genetik yang mempengaruhi karakteristik virus, termasuk penularan, keparahan penyakit, dan kekebalan.

Varian ini berbeda dari varian sebelumnya, yang menyebabkan penurunan efektivitas tindakan kesehatan masyarakat, vaksin, atau terapi.

"Varian ini memiliki beberapa mutasi yang perlu dipelajari untuk dampak potensialnya pada respons kekebalan tubuh," kata WHO dalam sebuah pernyataan.

"Data yang dibagikan dengan Kelompok Kerja Evolusi Virus WHO menunjukkan bahwa kekebalan berkembang melalui infeksi atau vaksinasi sebelumnya mungkin tidak sekuat melawan varian ini.

Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengonfirmasi hal ini," tambah pernyataan itu.

Selain itu, varian Mu disebut memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan.

Data awal yang disajikan kepada Kelompok Kerja Evolusi Virus menunjukkan penurunan kapasitas penetralan serum pemulihan dan vaksin yang serupa dengan yang terlihat pada varian Beta.

"Tetapi ini perlu dikonfirmasi penelitian lebih lanjut," kata WHO dalam buletin mingguannya. Varian lain yang menarik adalah Eta, Iota, Kappa, dan Lambda.

Seperti Mu, Lambda juga pertama kali terdeteksi di Amerika Selatan, tepatnya di Peru.

Sementara Iota pertama kali terdeteksi di AS pada November lalu.

 "Sirkulasi varian Mu telah menurun secara global. Kurang dari 0,1 persen dari urutan yang dibagikan saat ini adalah varian ini," kata WHO.

"Namun, prevalensinya di Kolombia dan Ekuador meningkat dalam beberapa pekan terakhir. WHO akan mengikuti dengan cermat evolusi epidemiologi varian ini, bersama dengan studi tentang dampaknya," tambahnya.

Berita itu muncul saat AS terus memerangi penyebaran varian delta, yang tetap menjadi strain dominan di negara itu setelah pertama kali dilaporkan di India.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved