Kisah Pahlawan
Kisah Heroik Emmy Saelan, Perawat yang Lemparkan Granat ke Belanda di Kassi-kassi
Untuk mengenang kepahlawanannya, jalan yang sering dilalui Emmy ketika bergerilya diabadikan sebagai nama Jalan Jalan Emmy Saelan
Pada bulan September 1945, Sekutu sudah mendarat di Makassar. Secara formal, mereka bertugas mengontrol keamanan dan melucuti tentara Jepang.
Akan tetapi, kenyataan memperlihatkan bahwa mereka bekerja untuk mengalihkan kekuasaan dari tangan Jepang ke Belanda.
Rakyat Sulawesi tidak suka dengan hal ini. Pada 17 September 1945, para pelajar perguruan Islam Datu Museng mengibarkan bendera merah-putih di sekolahnya. Berkali-kali terjadi bentrokan antara pasukan NICA dengan pelajar-pelajar Indonesia.
Pada saat itu juga, sekelompok pemuda mendirikan organisasi bernama Pusat Pemuda National Indonesia (PPNI).
Pemimpinnya adalah seorang pemuda Indonesia bernama Manai Sophiaan, kelak ia menjadi Dubes Indonesia untuk Rusia.
PPNI memainkan peranan penting di masa-masa awal perlawanan pelajar Sulawesi terhadap kolonialisme Belanda pasca proklamasi kemerdekaan.
28 Oktober 1945, hanya beberapa saat setelah sekutu mendarat di Makassar, pasukan NICA telah menangkap pemimpin pemuda, Manai Sophiaan.
Ia lalu dibawa ke markas NICA di Empress Hotel. Besoknya, 29 Oktober 1945, para pelajar Makassar menyerbu hotel itu dan mengibarkan bendera merah-putih di sana.
Kakak-beradik, Emmy dan Maulwi, adalah penggerak utama para pelajar yang menyerbu kantor NICA itu.
Para pelajar heroik ini sebagian besar berasal dari SMP Nasional. Sekolah ini merupakan sekolah milik Republik pertama yang berdiri di Makassar pasca proklamasi kemerdekaan.
Latar belakang pendirian sekolah ini pun sangat heroik: sekolah ini merupakan tantangan terhadap usaha Belanda untuk membikin sekolah di Makassar.
Belanda sendiri mencap sekolah ini sebagai sekolah ‘ekstremis’.
SMP Nasional melahirkan banyak tokoh pejuang, diantaranya: Emmy Saelan, Robert Wolter Mongisidi dan Maulwi Saelan, adik Emmy.
Sejak pemogokan Stella Maris, lalu penyerbuan Empress Hotel, Emmy Saelan telah memilih jalan hidupnya: sebagai pejuang Republik Indonesia.
Pada bulan Juli 1946, 19 organisasi pemuda se Sulawesi Selatan telah berkumpul di Polombankeng, sebuah daerah di Takalar, Sulawesi Selatan.