Breaking News:

Andi Jamaro Dulung

Tokoh Bugis Andi Jamaro Dulung Masuk Bursa Konvensi Capres NU

Mantan anggota DPR RI sekaligus tokoh Bugis Andi Jamaro Dulung masuk bursa konvensi calon presiden Nahdlatul Ulama (NU).

Penulis: Ari Maryadi | Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
Mantan Anggota DPR RI sekaligus tokoh Bugis, Andi Jamaro Dulung 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Mantan anggota DPR RI sekaligus tokoh Bugis Andi Jamaro Dulung masuk bursa konvensi calon presiden Nahdlatul Ulama (NU).

Nama politisi kelahiran Soppeng itu 12 Desember 1960 bersaing dengan 17 nama tokoh NU lain se-Indonesia.

Dari 18 nama itu, hanya tiga nama berasal luar Pulau Jawa, antara lain dua dari Sulsel Prof KH Nasaruddin Umar dan Andi Jamaro Dulung, ditambah tokoh NU asal Sumatera Wahiduddin AdamS.

"Hasil polling tahap pertama saya unggul di peringkat pertama, disusul Bapak Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, Endin AJ Sofihara dan Khofifah Indar Parawangsa," kata Jamaro Dulung kepada Tribun Timur, Rabu (28/7/2021) siang.

Jamaro mengatakan poling konvensi capres NU itu digelar oleh tim 9 NU yang dipimpin Mabroer MS.

Beranggotakan Imam Buchhori, Uchok, Khadafi, Eko Cahyono, Warida Ahmad, Ridwan Balia, Amsar, Dulmanan, Muchlas Syarkun, dan Kurnia P Kusuma.

Jamaro menjelaskan dirinya bersama 17 nama lainnya tidak mengajukan diri. Karena karakter NU tidak pernah mengajukan diri, bukan hanya dalam politik bahkan dalam memimpin salat pun tidak pernah mengajukan diri.

Menurutnya, polling tahap pertama itu menyasar populasi publik, bukan hanya warga NU. Poling dilakukan melalui Whatsapp.

"Rencanannya akan ada empat kali polling, saya peringkat pertama poliing pertama," katanya.

Jamaro mengatakan, hasil konvensi nantinya akan dipresentasikan kepada publik. Sebab, NU tidak boleh berpolitik praktis.

Yang punya kewenangan dan leluasa bergerak dalam politik praktis adalah partai politik, kemudian para calon presiden melalui pintu mana, koalisi mana, ditambah tergantung partai mana nanti.

"Selama kan ini kan seolah-seolah sikap NU hanya ditentukan oleh PBNU, siapa figur, siapa tokoh, itu selama ini parameternya ditentukan oleh PBNU, nah kali ini tim 9 mencoba memperkenalkan 18 tokoh, lalu dikemudian dipublish, diberi kesempatan kepada warga NU dan warga luar NU memilih yang terbaik," katanya.

Jamaro mengatakan, tujuan NU tidak boleh diingkari sejarah, punya jejak rekam jejak yang membekas di kalangan ummat. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved