Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wajo

Dinas Pendidikan Wajo Pastikan Sekolah Tatap Muka Digelar 12 Juli 2021

Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo Pastikan Sekolah Tatap Muka Digelar 12 Juli 2021

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/HARDIANSAH
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo, drg Armin saat memantau proses vaksinasi di Kabupaten Wajo. 

TRIBUNWAJO.COM, SENGKANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo memastikan sekolah tatap muka tetap dimulai pada 12 Juli 2021.

Meski demikian, tidak semua sekolah bakalan bisa menggelar sekolah tatap muka langsung.

"Tidak semua sekolah, sekolah yang tidak memenuhi daftar periksa dan kepala sekolahnya tidak menyanggupi," kata Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Wajo, Yahya saat dikonfirmasi tribun-timur.com, Jumat (25/6/2021).

Menurutnya, pihak Disdikbud akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo untuk melakukan verifikasi ke sekolah-sekolah yang memenuhi daftar periksa yang dipersyaratkan.

"Mulai minggu depan kita jalan bersama Dinkes untuk lakukan verifikasi," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo, drg Armin menyebutkan  sebagaimana aturan pemerintah, bahwa daerah yang zona hijau dan zona kuning penyebaran kasus Covid-19 sudah boleh menggelar sekolah tatap muka.

"Kita sendiri di Wajo sudah zona kuning, artinya sudah bisa menggelar sekolah tatap muka langsung. Tapi, ada persyaratan yang perlu dipenuhi," katanya.

Selain itu, Dinkes memaksimalkan vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga pendidik jelang sekolah tatap muka langsung.

"Kita vaksin gurunya, kalau peserta didik belum karena belum cukup 18 tahun," katanya.

Sejauh ini, sebanyak 7.536 guru menjadi sasaran penerima vaksin. 

Sudah ada 6.528 orang atau 86,6% guru yang telah menerima vaksin dosis pertama dan sebanyak 5.338 orang atau 70,8% yang telah menerima hingga dosis kedua.

Diketahui, ada 74 SMP dan 397 SD yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Wajo.

Belajar tatap muka memang mendesak dilakukan, sambung Yahya, mengingat tidak maksimalnya proses pembelajaran jarak jauh atau daring selama ini.

"Kendala-kendala kita itu, pertama pencapaian nilai kualitas akademik kurang, karena guru tidak mengajarkan secara penuh kurikulum," katanya.

Alasan selanjutnya, yakni proses pembentukan karakter peserta didik terhambat.

"Seperti tadi yang saya sampaikan, kalau ada kuota diberikan malah dipakai main game, tidak dipakai untuk belajar, proses pembentukan karakter itu tidak ada," katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved