Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kisah Pahlawan

Kisah La Madukelleng, Mantan Bajak Laut yang Dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional

Julukan Maddukelleng dari Suku Wajo adalah Petta Pammadekaenggi, berarti Tuan yang memerdekakan Wajo. Ia juga dikenal sebagai seorang ksatria.

Tayang:
Editor: Muh. Irham
ist
La Maddukelleng 

Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat mengenai pesta sabung ayam yang saat itu berlangsung.

Akibat perkelahian yang terjadi, hubungan kerajaan Wajo dan kerajaan Bone menjadi kurang harmonis.

Pada 1714, La Maddukelleng pergi ke Johor (sekarang Malaysia) dari Peneki menggunakan perahu.

Saat itu ia bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko yang merupakan pedagang kaya Johor.

Sultan Pasir

La Maddukelleng memulai perjuangannya pada tahun 1715 saat membantu Daeng Parani melawan Johor yang kemudian berhasil mereka menangkan.

Pada tahun 1726, La Maddukelleng diangkat menjadi Sultan Pasir Kalimantan Timur.

Sebelumnya La Maddukelleng menikah dengan Puteri Sultan Sepuh Alamsyah Raja Pasir yang bernama Anding Anjang.

Keduanya dikaruniai seorang anak bernama Aji Doya yang kemudian akan menikah dengan Muhammad Idris, Raja Kutai dan berganti nama menjadi Putri Agung.

Anak-anak La Maddukelleng lainnya, Petta To Sibengngareng, Petta Rawe, serta Petta To Siangka.

Selama di Pasir, Kalimantan, La Maddukelleng selalu berusaha mempertahankan adat istiadat kerajaan Wajo.

Padahal saat itu kerajaan Wajo sedang diduduki oleh Kerajaan Bone.

Banyak orang-orang Wajo yang pergi ke Pasir untuk meminta pertolongan La Maddukelleng.

Karena menjadi padat, La Maddukelleng mencari tempat pemukiman baru di Kutai.

Raja Kutai kemudian menyetujui permintaan La Maddukelleng dengan syarat bahwa orang-orang Wajo tersebut harus mengikuti aturan dan ketentuan Raja Kutai.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved