Stadion Mattoanging
OPINI: Ada Apa dengan Stadion Mattoanging?
Kini tersisa reruntuhan bangunan dan beberapa titik lubang tergenang air. Rumput liar menutupi beberapa bongkahan bebatuan dan tanah.
Hal ini kemudian membuat kami para pencinta sepak bola pada khususnya dan masyarakat Sulawesi Selaran bertanya. "Ada apa dengan Stadion Mattoanging? Apa yang salah?
Apakah karena gubernur sedang ditahan? Atau apakah pengambil kebijakan di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan memang tidak menginginkan berdirinya kembali Stadion Mattoanging? Atau apakah mereka punya kepentingan lain di balik ini semua?
Sangat wajar pertanyaan ini.
Sebagai pencinta sepak bola dan warga Kota Makassar yang katanya sedang menuju kota dunia, ibu kota provinsi terbesar di luar Pulau Jawa, harus terancam tidak memiliki stadion sepak bola yang berstandar. Harusnya malu pada kota-kota kecil di luar yang bahkan memiliki lebih dari satu stadion.
Apalagi kita tahu Stadion Mattoanging sarat dengan sejarah.
Bukan hanya sebagai sarana olahraga, khususnya sepak bola.
Mattoanging adalah salah satu simbol perjuangan masyarakat Sulawesi Selatan di masa lalu, terbukti Stadion Mattoanging termasuk bangunan cagar budaya yang tercatat.
Stadion Mattoanging telah melahirkan banyak legenda sepak bola. Baik yang pernah bermain di PSM Makassar maupun Makassar Utama. Beberapa pemain nasional juga lahir dari situ.
Begitupun dengan prestasi klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, PSM Makassar. Stadion Mattoanging adalah satu-satunya markas PSM Makassar, bahkan di era ini PSM Makassar tidak biaa terlepas dari Stadion Mattoanging ini.
Atas dasar itu aliansi pencinta sepak bola, suporter PSM Makassar, dan masyarakat di Sulawesi Selatan mulai menyuarakan untuk menyelamatkan Stadion Mattoanging.
Menemui DPRD, melakukan aksi damai, memasang spanduk dukungan hingga turun di jalan, tapi semuanya itu seakan tidak terpengaruh untuk mengetuk hati para penguasa di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan.

Kita tahu pendanaan yang menjadi persoalan utama terhambatnya pembangunan stadion sebenarnya telah ada solusi. Sudah ada persetujuan dari pihak DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.
Dana pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN dengan nilai sekitar Rp1,16 triliun yang sebelumya diajukan tidak bisa dicairkan karena Plt. Gubernur Sulawesi Selatan menganggap utang provinsi masih banyak. Dia enggan terbebani dengan utang baru.
Padahal pencairan tahap awal sebagai biaya untuk pembongkaran, lelang manajemen konstruksi, dan detail engineering design telah dikucurkan.
Kini harapan tinggal harapan, tak ada pembangunan Stadion Mattoanging. Semua hilang, semua sirna seiring matinya sejarah Stadion Mattoanging.