Breaking News:

Opini Tribun Timur

Waktu Imsak Muhammadiyah Lebih Lambat 8 Menit dari Jadwal Imsakiyah Pemerintah,Dikaji Sejak 11 Tahun

ISRN menyimpulkan dari 750 data Subuh (terbit fajar) berbagai daerah di dunia memiliki beragam data ketinggian awal waktu subuh.

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Andi Muhammad Ilham, Sekum PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel 2010-2014 

Oleh
Andi Muhammad Ilham
Sekum PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel 2010-2014

Tulisan ini dimuat di Tribun Timur cetak Rubrik Opini Tribun Timur edisi Selasa, 13 April 2021 dengan judul 8 Menit Dusa Imsak Satu Subuh.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penetapan awal Ramadhan dan waktu Idhul fitri telah menjadi momentum yang akan menghadirkan pemaknaan umat Islam akan pentingnya ilmu falak (astronomi).

Dengan bersandar pada ketinggian bulan baru (new moon) terhadap posisi matahari (bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari).

Memunculkan perbedaan metodologi dalam ilmu falak, diantaranya wujudul hilal (Hisab hakiki) seperti yang dijalankan persyerikatan Muhammadiyah dengan tiga syarat kumulatif yaitu telah terjadi ijtimak, ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam dan pada saat matahari terbenam Bulan (piringan atasnya masih di atas ufuk).  

Berbeda dengan kriteria  yang bersandar pada visibilitas tinggi hilal dimana jarak bulan dan matahari memungkinkan untuk dilihat (imkanurrukyat) dengan ketinggian tertentu.

Landasan kuat yang menjadi pilar ijtihadnya metode wujudulhilal adalah firman Allah SWT, “Matahari dan bulan beredar berdasarkan perhitungan” (QS ArRahman/ 55 : 5), ada juga, “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menempatkan tempat-tempat (manzilah) orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu (hisab)” (QS Yunus/ 10 : 5). Sebagai petunjuk imperatif agar memanfaatkan gerak benda langit (bumi, bulan dan matahari) untuk penentuan bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Belum tuntas permufakatan terkait penetapan penyatuan kalender Hijriah atau kalender Hijriah global tersebut. Maka berdasarkan kriteria di atas (imkanurrukyat dan wujudulhilal), akan terjadi perbedaan penetapan idul Adha pada tahun 2022. Kemudian pada tahun 2023 terjadi perbedaan penetapan lebaran sekaligus Idul Adha, sebab tinggi hilal menjelang lebaran 1,7 derajat dan saat idul Adha tinggi hilal 0,9 derajat. Untuk Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2021 ini akan sama, karena ijtimak di atas 3 derajat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) kembali memantik umat Islam pada perspektif kepekaan nalar ilmu falak dan astronomi dengan penetapan waktu salat subuh yang lebh lambat.

Majelis Tarjih dan Tajdid yang membidangi pengambilan keputusan terkait upaya ijtihad dengan ikhtiar yang mengandung unsur kebaruan, kritis, dinamis dalam menjalankan problem dan tantangan perkembangan sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi umat Islam. Berpijak dan berpedoman pada telaah dan analisis mendalam menggunakan teks al-Quran dan Hadis serta realitas objektif kondisi masyarakat yang terus berkembang.

Menurut Prof Amin Abdullah, Majelis Tarjih dan Tajdid memiliki modal penting dengan trilogi pendekatan dalam melakukan ijtihad yang dikenal dengan metode bayani, burhani dan irfani. Dimana ketiga epistemologi Islam tersebut memiliki basis dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayani didasarkan pada teks, burhani pada rasio, dan irfani pada intuisi.

Keputusan PPM nomor 734/KEP/I.0/B/2021 per tanggal 7 Syakban 1442 H/ 20 Maret 2021 tentang kriteria awal waktu subuh, juga akan berkonsekuensi pada ibadah lainnya. Dimana waktu tersebut berkorelasi dengan akhir sholat witir, awal ibadah puasa, waktu subuh sendiri serta akhir waktu bila pelasanaan wukuf di Arafah. Pelaksanaan waktu-waktu sholat fardhu jelas termaktub perintahnya dalam Alquran, “… Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS An-Nisa/ 4 : 103) 

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved